Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat banyak pekerjaan berubah drastis. Di tengah kekhawatiran AI akan menggantikan sejumlah profesi, para pencari kerja, khususnya generasi Z (Gen Z) dan fresh graduate, dituntut memiliki kemampuan yang lebih beragam agar tetap kompetitif di dunia kerja.
Salah satu pendiri perusahaan pembayaran digital Stripe, John Collison, menilai ada satu strategi yang bisa menjadi pembeda di era AI, yakni memiliki keahlian lintas disiplin atau bahkan mengambil dua jurusan kuliah sekaligus.
Menurut Collison, menguasai dua bidang ilmu yang berbeda akan memberikan nilai tambah yang sulit digantikan oleh teknologi. Di saat AI mampu mengotomatisasi banyak pekerjaan teknis, kemampuan menghubungkan berbagai disiplin ilmu justru semakin dibutuhkan perusahaan.
Baca Juga: Anak Generasi Alpha Disebut Lebih Sensitif dari Gen Z, Ini Alasannya Menurut Psikolog
"Kalau Anda paham software dan paham keuangan, atau paham software dan paham marketing, Anda bisa sangat meningkatkan seluruh marketing funnel perusahaan," ujar Collison seperti dikutip dari Fortune pada Minggu (28/06/2026).
Collison menjelaskan, dunia kerja kini tidak lagi hanya membutuhkan seseorang yang ahli di satu bidang. Perusahaan justru mencari talenta yang mampu menggabungkan kemampuan teknologi dengan pemahaman bisnis, pemasaran, keuangan, maupun bidang lainnya.
Menurutnya, lulusan yang memiliki kombinasi keterampilan akan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan yang dipicu AI dan memiliki peluang lebih besar untuk membangun karier jangka panjang.
Kemampuan berpikir lintas disiplin juga dinilai membuat seseorang lebih mudah menemukan solusi kreatif terhadap berbagai persoalan yang tidak bisa sepenuhnya diselesaikan oleh kecerdasan buatan.
Baca Juga: Apa Itu Generasi Zillennial? Generasi yang Tumbuh di Antara Millennial dan Gen Z
Pandangan Collison sejalan dengan pemikiran mendiang investor legendaris Charlie Munger, yang selama puluhan tahun dikenal sebagai sosok yang mendorong pentingnya memiliki wawasan multidisiplin.
Munger, yang merupakan tangan kanan Warren Buffett di Berkshire Hathaway, percaya bahwa seseorang akan membuat keputusan yang lebih baik jika memahami berbagai bidang ilmu, bukan hanya fokus pada satu disiplin saja.
Menurut Collison, saat ini mempelajari berbagai bidang menjadi jauh lebih mudah dibandingkan sebelumnya berkat kemajuan teknologi.
"Charlie Munger berbicara tentang pentingnya menjadi multidisipliner. Sekarang Anda bisa membaca buku atau bahkan berdiskusi dengan AI mengenai berbagai topik. Saya pikir para pemikir multidisiplin akan tampil sangat baik," ujarnya.
Baca Juga: Financial Planner Ungkap Siapa Sebenarnya Generasi Sandwich, Ternyata Bukan Hanya Anak Muda
Pandangan senada juga disampaikan Presiden sekaligus salah satu pendiri perusahaan AI Anthropic, Daniela Amodei. Ia menilai perkembangan AI justru membuat keterampilan manusia atau soft skill menjadi semakin penting.
Menurut Amodei, lulusan dari bidang humaniora atau liberal arts, seperti ilmu sosial, seni, sejarah, hingga filsafat, memiliki bekal yang sangat dibutuhkan di era AI.
Hal ini karena kecerdasan buatan sudah berkembang pesat dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM). Sebaliknya, kemampuan yang berkaitan dengan komunikasi, empati, kecerdasan emosional, rasa ingin tahu, hingga memahami perilaku manusia masih menjadi keunggulan yang sulit digantikan AI.
"Saya pikir hal-hal yang membuat kita unik sebagai manusia, memahami diri sendiri, memahami sejarah, dan memahami apa yang memotivasi kita, akan selalu sangat penting," kata Amodei.
Ia menambahkan, kemampuan berpikir kritis, bekerja sama dengan orang lain, dan membangun hubungan antarmanusia akan menjadi keterampilan yang semakin dibutuhkan di masa depan.
Pesatnya perkembangan AI memang mengubah cara perusahaan bekerja. Namun, teknologi tidak selalu menggantikan manusia. Sebaliknya, AI lebih banyak mengubah jenis keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.
Oleh karena itu, memiliki kombinasi keahlian teknis dan nonteknis, terus belajar, serta mampu beradaptasi dengan perubahan menjadi modal utama agar tetap relevan di tengah transformasi digital.