Lebih lanjut, Irdawati menegaskan bahwa kualitas rasa tetap menjadi prioritas utama. Dengan pemilihan bahan baku yang tepat, cokelat berbasis sawit justru mampu menghasilkan cita rasa yang bersih tanpa rasa pahit atau sensasi tidak nyaman di mulut.
“Nggak ada yang bilang coklatnya ketir. Nggak ada pahit, nggak ada ketir pakai sawit, nggak ada. Karena memang saya ambil biji coklat yang kualitasnya benar-benar bagus,” tukasnya.
Untuk memastikan kualitas tersebut, Irdawati mengaku memilih sumber bahan baku secara selektif. Ia mengambil biji kakao dari daerah yang sudah dikenal kualitasnya, seperti Bali, serta memastikan proses fermentasi berjalan optimal.
“Saya ambil contoh dari Bali, memang ambil coklatnya dari sana. Dan prosesnya harus benar, fermentasinya juga harus benar,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya kualitas lemak sawit yang digunakan. Menurutnya, tidak semua bahan sawit memiliki standar yang sama.
“Proses untuk lemak sawitnya juga saya ambil kualitas yang bagus, grade-nya super, yang A. Jadi memang tidak kaleng-kaleng,” tegas Irdawati.
Kombinasi antara bahan baku premium dan proses yang terjaga menghasilkan produk dengan rasa yang ia klaim setara dengan cokelat internasional.
“Saya memang sangat selektif memilih bahan baku. Makanya rasanya begitu enak seperti coklat-coklat Dubai, coklat-coklat Malaysia. Mungkin yang pernah ke bandara Malaysia dan belanja coklat, kurang lebih 11-12 mirip banget,” tandasnya.
Baca Juga: Kisah Dokter Kembangkan Produk Turunan Kelapa Sawit