Dokter Spesialis Estetika Medis, Irdawati Novita, membuktikan bahwa inovasi tak selalu datang dari dapur industri pangan.
Berbekal ketertarikan pribadi sekaligus ketelitian dalam memilih bahan, ia berhasil mengembangkan produk cokelat berbasis lemak nabati dari kelapa sawit dengan kualitas yang tak kalah dari merek-merek ternama.
Kecintaannya pada cokelat menjadi titik awal eksperimen tersebut. Ia mengaku kerap membeli cokelat dari berbagai bandara sebagai referensi rasa. Dari situlah muncul dorongan untuk menciptakan produk dengan karakter serupa.
“Terakhir saya buat coklat dari sawit itu saya yakin betul karena saya suka banget sama coklat dan saya suka beli dari bandara-bandara. Dan saya mencoba formulasinya semirip mungkin dengan coklat yang ada di bandara sebagai souvenir,” tutur Irdawati, saat ditemui Olenka, belum lama ini.
Dalam prosesnya, Irdawati bahkan membandingkan langsung hasil kreasinya dengan sejumlah merek populer. Hasilnya cukup mengejutkan, cokelat berbasis sawit tersebut mampu bersaing dari segi rasa.
“Itu kita bandingkan juga, mungkin saya boleh kasih merek ya, seperti Delfi dan segala macam. Ternyata coklat dari sawit itu nggak kalah enak,” katanya.
Tak hanya soal rasa, Irdawati juga menyoroti keunggulan teknis cokelat berbasis sawit, terutama dalam hal tekstur dan daya tahan terhadap suhu. Menurutnya, karakter ini menjadi nilai tambah, khususnya di iklim tropis seperti Indonesia.
“Lebih chewy, lebih tahan suhu tinggi. Kalau di Jakarta kan kalau kena panas pasti lumer ya. Coklat sawit itu lebih tahan panas. Ketiga, dia tidak ‘ketir’,” jelasnya.
Baca Juga: Peneliti IPB Membuat Sepatu Berbahan Kelapa Sawit
Lebih lanjut, Irdawati menegaskan bahwa kualitas rasa tetap menjadi prioritas utama. Dengan pemilihan bahan baku yang tepat, cokelat berbasis sawit justru mampu menghasilkan cita rasa yang bersih tanpa rasa pahit atau sensasi tidak nyaman di mulut.
“Nggak ada yang bilang coklatnya ketir. Nggak ada pahit, nggak ada ketir pakai sawit, nggak ada. Karena memang saya ambil biji coklat yang kualitasnya benar-benar bagus,” tukasnya.
Untuk memastikan kualitas tersebut, Irdawati mengaku memilih sumber bahan baku secara selektif. Ia mengambil biji kakao dari daerah yang sudah dikenal kualitasnya, seperti Bali, serta memastikan proses fermentasi berjalan optimal.
“Saya ambil contoh dari Bali, memang ambil coklatnya dari sana. Dan prosesnya harus benar, fermentasinya juga harus benar,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga menekankan pentingnya kualitas lemak sawit yang digunakan. Menurutnya, tidak semua bahan sawit memiliki standar yang sama.
“Proses untuk lemak sawitnya juga saya ambil kualitas yang bagus, grade-nya super, yang A. Jadi memang tidak kaleng-kaleng,” tegas Irdawati.
Kombinasi antara bahan baku premium dan proses yang terjaga menghasilkan produk dengan rasa yang ia klaim setara dengan cokelat internasional.
“Saya memang sangat selektif memilih bahan baku. Makanya rasanya begitu enak seperti coklat-coklat Dubai, coklat-coklat Malaysia. Mungkin yang pernah ke bandara Malaysia dan belanja coklat, kurang lebih 11-12 mirip banget,” tandasnya.
Baca Juga: Kisah Dokter Kembangkan Produk Turunan Kelapa Sawit