Meski menyadari bahwa perubahan sistem pendidikan membutuhkan waktu yang panjang, Galih menilai, jutaan anak tetap membutuhkan dukungan pembelajaran yang relevan saat ini.

Karena itu, menurutnya, berbagai pihak perlu ikut berkontribusi sembari menunggu perbaikan sistem berlangsung.

Semangat tersebut yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Smartick Indonesia. Ia menegaskan bahwa platform tersebut tidak hadir untuk menggantikan peran sekolah ataupun mendorong semua anak mengikuti les, melainkan menjadi pendamping belajar yang mampu menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak melalui metode pembelajaran adaptif.

"Menurutku tetap harus ada yang bergerak daripada menunggu sistemnya sempurna. Dengan semangat itulah kami membangun Smartick, bukan untuk menggantikan sekolah, bukan untuk memaksa semua anak harus les, tetapi membantu keluarga dengan pembelajaran yang sesuai kebutuhan anak. Di Smartick, sesi latihannya adaptif, artinya menyesuaikan dengan pemahaman setiap anak," kata Galih.

Lebih jauh, Galih berharap, setiap anak di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun sosial.

Selama pemerataan kualitas pendidikan belum sepenuhnya terwujud, ia ingin Smartick dapat menjadi salah satu bagian dari solusi untuk membantu anak belajar sesuai kemampuan dan kebutuhannya.

"Mimpiku dari dulu adalah setiap anak berhak mendapatkan akses ke pendidikan berkualitas, apa pun latar belakangnya. Selama sistem kita belum sampai ke sana, aku ingin Smartick menjadi bagian kecil dari solusinya," tutup Galih.

Baca Juga: Bukan Dana Pendidikan, Ini Investasi Terbaik untuk Anak Menurut Financial Planner