Growthmates, pendidikan di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan yang lebih besar daripada sekadar persoalan nilai akademik.
Menurut CEO and Co-Founder Smartick Indonesia sekaligus Educational Content Creator, Galih Sulistyaningra, semakin banyak orang tua yang merasa harus menyekolahkan anak ke sekolah swasta dan masih menambah biaya untuk mengikuti les menjadi sinyal bahwa ada persoalan mendasar dalam sistem pendidikan.
Galih menilai, kondisi tersebut bukan hanya soal kemampuan finansial keluarga, melainkan mencerminkan adanya kesenjangan kualitas pendidikan yang belum merata.
"Ada satu tanda kalau pendidikan kita sedang menghadapi masalah yang jauh lebih serius daripada sekadar nilai ujian. Semakin banyak orang tua merasa harus berlomba-lomba memasukkan anaknya ke sekolah swasta, belum lagi setelahnya mengeluarkan biaya untuk mengikuti les atau kelas tambahan. Pendidikan jadi terasa makin mahal," tutur Galih, dalam sebuah video sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @galihtyanr, Senin (27/7/2026).
Guru SD Peraih Master dari UCL Inggris dengan Beasiswa LPDP ini menuturkan, apabila kualitas pendidikan di sekolah, terutama sekolah yang dikelola pemerintah, dapat merata dan memberikan pembelajaran yang optimal, maka les tidak lagi menjadi kebutuhan utama.
Sebaliknya, kata dia, kelas tambahan seharusnya hanya menjadi pilihan bagi anak yang ingin mengembangkan potensinya lebih jauh, bukan sebagai cara untuk menutupi kekurangan dalam sistem pendidikan formal.
"Kalau pendidikan di sekolah, apalagi yang dikelola pemerintah, punya kualitas yang sama baiknya dan merata, les-lesan itu jadi nggak wajib. Les hanya menjadi pilihan untuk mengembangkan potensi anak, bukan untuk menutupi kekurangan dari sistem," jelasnya.
Baca Juga: AI Tidak Akan Menggantikan Peran Perempuan, Justru Menjadi Mitra dalam Pendidikan
Meski menyadari bahwa perubahan sistem pendidikan membutuhkan waktu yang panjang, Galih menilai, jutaan anak tetap membutuhkan dukungan pembelajaran yang relevan saat ini.
Karena itu, menurutnya, berbagai pihak perlu ikut berkontribusi sembari menunggu perbaikan sistem berlangsung.
Semangat tersebut yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Smartick Indonesia. Ia menegaskan bahwa platform tersebut tidak hadir untuk menggantikan peran sekolah ataupun mendorong semua anak mengikuti les, melainkan menjadi pendamping belajar yang mampu menyesuaikan kebutuhan masing-masing anak melalui metode pembelajaran adaptif.
"Menurutku tetap harus ada yang bergerak daripada menunggu sistemnya sempurna. Dengan semangat itulah kami membangun Smartick, bukan untuk menggantikan sekolah, bukan untuk memaksa semua anak harus les, tetapi membantu keluarga dengan pembelajaran yang sesuai kebutuhan anak. Di Smartick, sesi latihannya adaptif, artinya menyesuaikan dengan pemahaman setiap anak," kata Galih.
Lebih jauh, Galih berharap, setiap anak di Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan berkualitas tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun sosial.
Selama pemerataan kualitas pendidikan belum sepenuhnya terwujud, ia ingin Smartick dapat menjadi salah satu bagian dari solusi untuk membantu anak belajar sesuai kemampuan dan kebutuhannya.
"Mimpiku dari dulu adalah setiap anak berhak mendapatkan akses ke pendidikan berkualitas, apa pun latar belakangnya. Selama sistem kita belum sampai ke sana, aku ingin Smartick menjadi bagian kecil dari solusinya," tutup Galih.
Baca Juga: Bukan Dana Pendidikan, Ini Investasi Terbaik untuk Anak Menurut Financial Planner