Menurutnya, Soedarpo memutuskan meninggalkan pekerjaannya di usia sekitar 31–32 tahun.
Kala itu, ia sempat terlibat dalam tim diplomasi yang memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia di New York pada 1948.
Namun, setelah Indonesia merdeka, Soedarpo merasa tidak cocok bekerja di birokrasi dan akhirnya memilih masuk ke dunia bisnis. Langkah berani tersebut kemudian menjadi awal berdirinya Samudera Indonesia.
Bani juga menilai konteks Indonesia sangat berbeda dengan negara seperti Jepang. Jika Jepang menghadapi penurunan populasi, Indonesia justru memiliki jumlah penduduk yang terus bertambah serta wilayah yang luas dengan banyak potensi yang belum tergarap.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha baru, terutama dari kalangan muda.
“Jadi kita butuh banyak sekali entrepreneur-entrepreneur baru dan lebih muda. Ataupun lebih cepat membangun Indonesia. Menurut saya, penting bagi generasi muda Indonesia berani,” paparnya.
Lebih jauh, ia pun menekankan bahwa generasi muda seharusnya berani mengambil risiko dan membangun potensi diri.
“Menurut saya penting bagi generasi muda Indonesia berani. Berani untuk berdiri sendiri, berani keluar, berani membangun potensinya dirinya sendiri, potensi kita sebagai Indonesia yang hidup di negaranya kita sendiri. Pasarnya besar,” tandasnya.
Baca Juga: Kisah Sang Raja Kapal Soedarpo Sastrosatomo Dirikan Samudera Indonesia