Di tengah tren generasi muda yang mulai berani meninggalkan pekerjaan tetap untuk membangun usaha sendiri, pandangan menarik datang dari Presiden Direktur Samudera Indonesia, Bani M. Mulia.
Alih-alih melihat fenomena resign dini sebagai sesuatu yang negatif, Bani justru menilai langkah tersebut bisa menjadi bagian penting dalam proses pengembangan diri dan lahirnya lebih banyak wirausaha baru di Indonesia.
Bani mengungkapkan bahwa salah satu tantangan yang ia hadapi sebagai CEO justru terkait tingkat pergantian karyawan atau turnover rate yang terlalu rendah.
Menurutnya, kondisi tersebut sempat menjadi perhatian dari dewan komisaris perusahaan.
“Malah tantangan saya sebagai CEO sekarang, yang saya ditegur oleh komisaris saya itu, ketika dilihat bahwa turnover rate di Samudera itu kok rendah banget sih. Itu juga tidak sehat. Kok banyak orang yang kerjanya puluhan tahun tidak mau pindah-pindah, jadi apakah comfort zone?,” ungkap Bani, di Jakarta, belum lama ini.
Bani menilai, kondisi karyawan yang terlalu lama berada di satu tempat tanpa mencoba tantangan baru bisa membuat mereka terjebak dalam zona nyaman.
Karena itu, ia justru mendorong karyawan muda untuk berani mengambil langkah baru dalam kariernya.
“Nah ini yang saya dorong kepada teman-teman di Samudera yang relatif masih muda. Saya tunggu kapan kamu resign-nya. Kalau kamu tidak resign, kamu tidak naik kelas," bebernya.
Pandangan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Bani mencontohkan kisah pendiri perusahaan, Soedarpo Sastrosatomo, yang memilih keluar dari jalur birokrasi dan akhirnya membangun bisnis besar.
Baca Juga: Bos Samudera Indonesia: Menjadi Mentorship Itu Tidak Harus CEO
Menurutnya, Soedarpo memutuskan meninggalkan pekerjaannya di usia sekitar 31–32 tahun.
Kala itu, ia sempat terlibat dalam tim diplomasi yang memperjuangkan pengakuan kemerdekaan Indonesia di New York pada 1948.
Namun, setelah Indonesia merdeka, Soedarpo merasa tidak cocok bekerja di birokrasi dan akhirnya memilih masuk ke dunia bisnis. Langkah berani tersebut kemudian menjadi awal berdirinya Samudera Indonesia.
Bani juga menilai konteks Indonesia sangat berbeda dengan negara seperti Jepang. Jika Jepang menghadapi penurunan populasi, Indonesia justru memiliki jumlah penduduk yang terus bertambah serta wilayah yang luas dengan banyak potensi yang belum tergarap.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat Indonesia membutuhkan lebih banyak pengusaha baru, terutama dari kalangan muda.
“Jadi kita butuh banyak sekali entrepreneur-entrepreneur baru dan lebih muda. Ataupun lebih cepat membangun Indonesia. Menurut saya, penting bagi generasi muda Indonesia berani,” paparnya.
Lebih jauh, ia pun menekankan bahwa generasi muda seharusnya berani mengambil risiko dan membangun potensi diri.
“Menurut saya penting bagi generasi muda Indonesia berani. Berani untuk berdiri sendiri, berani keluar, berani membangun potensinya dirinya sendiri, potensi kita sebagai Indonesia yang hidup di negaranya kita sendiri. Pasarnya besar,” tandasnya.
Baca Juga: Kisah Sang Raja Kapal Soedarpo Sastrosatomo Dirikan Samudera Indonesia