Nama Jusuf Hamka menjadi sorotan publik dalam beberapa hari belakangan ini, setelah pengusaha berdarah Tionghoa itu menang dalam konflik yang melibatkan perusahaan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) dengan pengusaha Hary Tanoesoedibjo.
Dimana Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) menghukum Hary Tanoesoedibjo membayar ganti rugi Rp531 miliar kepada CMNP karena dinilai melakukan perbuatan melawan hukum. Sejumlah ganti rugi itu harus dibayarkan Hary Tanoe dan perusahaannya, PT MNC Asia Holding Tbk, beserta bunga kepada PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP).
Terlepas dari kasus hukum tersebut, Abah Alun sapaan Jusuf Hamka memang dikenal sebagai salah satu pengusaha sederhana, ia kerap terlihat makan di pinggir jalan di lapak-lapak kuliner kaki lima. Abah Alun juga dikenal sebagai pengusaha yang dermawan.
Selain dikenal sebagai pengusaha sukses, ia juga dikenal sebagai politikus dari Partai Golkar, ia bahkan sempat menjabat bendahara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo dan Ma'ruf Amin.
Latar Belakang
Abah Alun lahir pada 5 Desember 1957 dengan nama Jauw A Loen atau Alun Joseph. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara.
Abah Alun lahir dan besar dalam keluarga Tionghoa yang sangat moderat dan terpelajar. Ayahnya Dr. Joseph Suhaimi, S.H merupakan dosen di Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta.
Abah Alun menikah dengan Lena Burhanudin dan dikarunia tiga anak yakni: Fitria Yusuf, Feisal Hamka dan Farid Hamka.
Ia memeluk Islam pada 1981 ketika usianya 23 tahun. Buya Hamka menjadi sosok paling berpengaruh dalam perjalanan iman Abah Alun.
Pilihannya menjadi mualaf diterima keluarga besarnya. Alih-alih menentang, mereka memberi dukungan kepadanya.
Anak dan istrinya baru memeluk Islam pada Maret 2020, d fakta ini membuktikan bahwa Abah Alun adalah sosok yang sangat toleran, tak pernah risih dengan perbedaan, sebab bertahun-tahun ia hidup bersama anak dan istri yang berbeda keyakinan.
Sepak Terjang Jusuf Hamka
Keluarga Abah Alun memang memilih jalur berbeda seperti kebanyakan masyarakat keturunan Tionghoa yang mayoritas adalah pengusaha. Seperti yang sempat disinggung di atas Abah Alun berasal dari keluarga terpelajar yang sederhana yang sangat menomorsatukan pendidikan.
Jauh sebelum dikenal sebagai raja jalan tol Abah Alun sempat gonta ganti profesi. Menjadi penjual asongan hingga menjadi pengusaha kayu pernah ia jajal di awal kariernya sebagai pengusaha.
Baca Juga: Deretan Bisnis Milik Jusuf Hamka, Bos Jalan Tol yang Gemar Berbagi
Bahkan pada medio 1986-1989 Abah Alun pernah banting setir menjadi supir traktor dalam sebuah proyek konstruksi jalanan dengan upah Rp750 ribu per bulan. Setelah tuntas dalam proyek tersebut, ia mencoba mencari pekerjaan lain semata-mata hanya untuk bertahan hidup, ratusan surat lamaran pekerjaan ia sebar tetapi hasilnya nihil.