Dijelaskannya, kolaborasi antara ayah dan ibu menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih seimbang. Anak tidak hanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian, tetapi juga teladan mengenai kerja sama, komunikasi, dan dukungan dalam keluarga.
Lebih jauh, Samanta menyoroti bahwa banyak nilai kehidupan yang dipelajari anak dari figur ayah.
Mulai dari prinsip hidup, tanggung jawab, hingga kemampuan mengendalikan diri, semuanya terbentuk melalui interaksi dan contoh yang diberikan ayah dalam keseharian.
"Yang perlu digarisbawahi, anak belajar tentang nilai-nilai, prinsip, bagaimana cara bertanggung jawab, berani mengambil risiko, dan kontrol dirinya itu lebih banyak belajarnya dari ayahnya," jelas Samanta.
Karena itu, kata dia, keterlibatan ayah tidak harus selalu diwujudkan melalui waktu yang panjang, melainkan melalui kehadiran yang berkualitas, konsisten, dan penuh perhatian.
Menurut Samanta, saat ayah aktif terlibat dalam kehidupan anak, mereka tidak hanya menjadi sosok pelindung, tetapi juga panutan yang membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, percaya diri, dan memiliki karakter yang kuat.
“Kehadiran ayah yang hangat dan penuh kasih menjadi salah satu fondasi penting yang membantu anak merasa dicintai, dihargai, dan siap menghadapi berbagai tantangan kehidupan di masa depan,” tandasnya.
Baca Juga: Neurodiversity Bukan Kekurangan, Psikolog Ungkap Cara Memahami Anak dengan Lebih Empatik