Selama ini banyak perempuan menganggap perdarahan tidak teratur menjelang menopause sebagai hal yang wajar. Padahal, kondisi tersebut bisa menjadi gejala awal kanker endometrium, yaitu kanker yang menyerang lapisan dalam rahim dan kini mulai ditemukan pada perempuan berusia lebih muda.
Hal tersebut menjadi perhatian dalam Media Discussion bertajuk "Bagaimana Mengenali Gejala Kanker Endometrium dan Pilihan Tata Laksana Terkini" yang diselenggarakan RS Pondok Indah Group di The Acre, Menteng, Jakarta pada Selasa (30/06/2026).
Dalam kesempatan tersebut, dr. Reni Amdaya Julianti, Sp.OG, Subsp.Onk, dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan onkologi ginekologi RS Pondok Indah, menjelaskan bahwa kanker endometrium merupakan kanker yang berkembang pada lapisan paling dalam rahim (endometrium). Jika tidak segera ditangani, sel kanker dapat menyebar ke jaringan sekitar hingga organ lain.
Baca Juga: 7 Makanan yang Perlu Dihindari Penderita Endometriosis
"Kanker endometrium sekarang mulai lebih banyak ditemukan. Bahkan, pasien termuda yang pernah saya tangani berusia 25 tahun. Ini menunjukkan bahwa penyakit ini tidak lagi hanya menyerang perempuan usia lanjut," ujar dr. Reni.

Menurut dr. Reni, gejala paling khas kanker endometrium adalah perdarahan rahim yang tidak normal. Pada perempuan yang masih menstruasi, kondisi ini biasanya ditandai dengan siklus haid yang lebih lama, jumlah darah yang lebih banyak, atau muncul perdarahan di luar jadwal menstruasi.
Sementara itu, pada perempuan yang sudah menopause, munculnya perdarahan sekecil apa pun harus menjadi alarm untuk segera memeriksakan diri ke dokter.
"Mitos yang paling sering kami temui adalah anggapan bahwa perdarahan menjelang menopause hanya karena 'darah penghabisan'. Padahal, perdarahan yang tidak normal harus dievaluasi karena bisa menjadi tanda kanker endometrium," jelasnya.
Baca Juga: Mengenal Endometriosis: Penyebab Nyeri Haid Hebat yang Kerap Disalahartikan
Selain perdarahan, gejala lain yang perlu diwaspadai meliputi keputihan bercampur darah, nyeri saat berhubungan seksual, rasa penuh di perut bagian bawah, hingga pembesaran rahim pada stadium yang lebih lanjut.
Faktor Risiko Kanker Endometrium yang Perlu Diwaspadai
Berbeda dengan kanker serviks yang erat kaitannya dengan infeksi virus HPV, kanker endometrium lebih banyak dipengaruhi oleh ketidakseimbangan hormon estrogen, yang salah satunya dipicu oleh pola hidup tidak sehat.
Dr. Reni menjelaskan terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kanker endometrium, di antaranya:
- obesitas atau berat badan berlebih;
- gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik;
- diabetes melitus;
- hipertensi;
- hipertrigliseridemia;
- infertilitas;
- penggunaan obat yang mengandung atau merangsang hormon estrogen; serta
- faktor genetik, meski jumlah kasusnya relatif sedikit.
Menurut dr. Reni, pola makan tinggi gula, tepung, dan karbohidrat olahan juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker endometrium.
"Makanan tinggi gula dan karbohidrat dapat memicu obesitas serta resistensi insulin. Kondisi tersebut memengaruhi keseimbangan hormon estrogen sehingga lapisan endometrium terus menebal. Jika berlangsung dalam waktu lama, sel-selnya dapat berubah menjadi ganas," terang dr. Reni.
Ia menambahkan bahwa jaringan lemak pada tubuh juga mampu memproduksi estrogen sehingga perempuan dengan obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami kanker endometrium.
Di balik berbagai faktor risiko tersebut, terdapat beberapa kebiasaan yang justru dapat membantu menurunkan risiko kanker endometrium.
Salah satunya adalah penggunaan pil kontrasepsi kombinasi yang mengandung hormon progesteron sehingga membantu menyeimbangkan kadar estrogen dalam tubuh. Selain itu, konsumsi makanan tinggi serat juga dinilai mampu menjaga keseimbangan metabolisme sekaligus membantu mengontrol berat badan.
"Makanan tinggi serat membuat kadar gula darah lebih stabil dan membantu menjaga keseimbangan hormon. Karena itu, pola makan sehat memiliki peran penting dalam pencegahan kanker endometrium," katanya.
Baca Juga: Daftar Makanan yang Boleh dan Tidak Boleh Dikonsumsi Penderita Endometriosis
Di sisi lain, perkembangan dunia medis memungkinkan sebagian pasien kanker endometrium tetap memiliki kesempatan untuk hamil melalui pendekatan fertility sparing treatment atau terapi mempertahankan kesuburan.
Terapi ini dilakukan menggunakan hormon dalam bentuk obat minum, suntikan, maupun alat kontrasepsi dalam rahim (intrauterine device/IUD) yang mengandung hormon.
Namun, tidak semua pasien dapat menjalani terapi tersebut. Menurut dr. Reni, terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu:
- berusia di bawah 40 tahun;
- kanker masih berada pada stadium IA;
- sel kanker memiliki derajat diferensiasi yang baik; dan
- belum terjadi penyebaran ke otot rahim.
Selama terapi berlangsung, pasien akan menjalani evaluasi setiap tiga hingga enam bulan melalui pemeriksaan pencitraan maupun biopsi. Jika respons terapi baik, pasien disarankan segera menjalani program kehamilan.
"Pada stadium IA, angka ketahanan hidup lima tahun mencapai sekitar 90 persen. Karena itu, deteksi dini menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan pengobatan," ujar dr. Reni.
Masih banyak masyarakat yang mengira kanker endometrium sama dengan endometriosis. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang menyerupai lapisan endometrium tumbuh di luar rahim, seperti pada ovarium atau organ lain di rongga panggul. Meski dapat menimbulkan nyeri hebat dan mengganggu kesuburan, endometriosis bukanlah kanker.
Sebaliknya, kanker endometrium terjadi ketika sel-sel pada lapisan dalam rahim berubah menjadi ganas dan berkembang tidak terkendali.
Pola Hidup Sehat Masih Menjadi Kunci Pencegahan
Hingga saat ini, belum terdapat program skrining rutin untuk kanker endometrium seperti Pap smear pada kanker serviks. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap gejala awal menjadi langkah paling penting untuk menemukan penyakit sejak stadium dini.
dr. Reni mengingatkan bahwa menjaga berat badan ideal, membatasi konsumsi gula dan tepung, memperbanyak makanan berserat, rutin berolahraga, serta mengendalikan diabetes dan hipertensi merupakan cara terbaik untuk menekan risiko kanker endometrium.
"Pola makan sehat dan olahraga berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon. Karena itu, perubahan gaya hidup menjadi investasi terbaik untuk membantu mencegah kanker endometrium sekaligus mengurangi risiko kekambuhan setelah pengobatan," tutupnya.