4. Memiliki Identitas yang Kuat sebagai Pembaca

Bagi sebagian orang, membaca bukan sekadar aktivitas, melainkan bagian dari identitas diri. Rak buku, koleksi novel, pembatas buku, hingga kebiasaan mengunjungi toko buku menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

Sebuah penelitian terhadap 143 siswa kelas 10 menemukan bahwa pembaca yang antusias cenderung lebih menyukai buku fisik. Sebaliknya, mereka yang kurang gemar membaca lebih terbuka terhadap format digital.

Meski demikian, identitas sebagai pembaca tidak berarti menolak teknologi. Banyak orang tetap memanfaatkan ebook atau audiobook dalam situasi tertentu, tetapi tetap menjadikan buku fisik sebagai pilihan utama.

5. Menghargai Arti Kepemilikan

Buku fisik menawarkan rasa kepemilikan yang sulit digantikan oleh format digital. Buku dapat dipinjamkan kepada teman, diberi catatan, diwariskan, disumbangkan, dijual kembali, atau dipajang sebagai koleksi pribadi.

Sebaliknya, ebook umumnya terikat pada lisensi dan ekosistem platform tertentu. Penelitian melalui diskusi kelompok mengenai pasar buku menunjukkan bahwa banyak konsumen tidak menganggap kepemilikan ebook setara dengan memiliki buku fisik karena adanya berbagai pembatasan dalam penggunaan dan distribusinya.

6. Mengaitkan Buku dengan Kenangan dan Identitas

Buku fisik sering kali menjadi lebih dari sekadar media membaca. Sebuah novel lama bisa menyimpan tiket perjalanan, bunga kering, catatan tangan orang tersayang, atau noda kopi yang mengingatkan pada masa tertentu dalam hidup.

Sosiolog María Angélica Thumala Olave menemukan hal tersebut melalui 43 wawancara dan 60 tanggapan tertulis di Inggris. Banyak responden mengaku sulit membuang buku karena setiap koleksi memiliki nilai emosional dan menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Bagi mereka, buku adalah benda yang menyimpan memori sekaligus mencerminkan identitas pribadi.

7. Lebih Mengutamakan Pemahaman daripada Sekadar Membaca

Kecepatan membaca tidak selalu sejalan dengan tingkat pemahaman. Penelitian yang dimuat dalam Journal of Experimental Psychology: Applied oleh Rakefet Ackerman dan Morris Goldsmith menunjukkan bahwa peserta yang membaca melalui layar cenderung kurang akurat dalam menilai sejauh mana mereka memahami materi.

Ketika diberi kebebasan menentukan waktu belajar, kelompok yang membaca menggunakan kertas juga menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan pembaca layar.

Hal ini mengindikasikan bahwa orang yang konsisten memilih buku fisik cenderung lebih mengutamakan pemahaman mendalam daripada sekadar menyelesaikan bacaan dengan cepat.

Baca Juga: CEO JPMorgan Ungkap Resep Sukses: Membaca Lima Koran di Awal Hari