Growthmates, tekanan sering kali datang justru ketika kita dituntut untuk berpikir paling jernih dan mengambil keputusan terbaik.

Dalam pertemuan sulit, keadaan darurat, keputusan penting terkait karier, hingga situasi yang mengancam keselamatan, tekanan dapat membuat seseorang yang sebenarnya kompeten menjadi ragu, panik, bahkan keliru membaca keadaan.

Namun, kemampuan untuk tetap tenang dan berpikir jernih di tengah tekanan bukan semata-mata bawaan kepribadian.

Kemampuan ini dapat dipahami, dilatih, dan diperkuat melalui pemahaman terhadap cara kerja pikiran serta pengalaman menghadapi situasi penuh tuntutan.

Dikutip dari Times Now News, Selasa (18/8/2026), 5 buku di bawah ini mengulas bagaimana manusia berpikir dan mengambil keputusan di bawah tekanan melalui berbagai perspektif, mulai dari psikologi, ilmu kognitif dan saraf, penelitian tentang bencana, hingga pengalaman para profesional yang terbiasa membuat keputusan cepat dengan konsekuensi nyata.

1. The Unthinkable karya Amanda Ripley

Apa yang terjadi pada pikiran manusia ketika bencana datang tiba-tiba? Pertanyaan ini menjadi titik awal Amanda Ripley dalam The Unthinkable. I

a menelusuri pengalaman para penyintas kebakaran, kecelakaan, hingga serangan teroris untuk memahami respons manusia terhadap situasi ekstrem, mulai dari penyangkalan, kebingungan, hingga keputusan untuk bertindak.

Buku ini menunjukkan bahwa manusia tidak selalu otomatis mampu mengambil keputusan tepat saat menghadapi keadaan darurat.

bisa membeku, meremehkan bahaya, atau membutuhkan waktu untuk menyadari ancaman. Karena itu, The Unthinkable menekankan pentingnya memahami cara kerja pikiran dan mempersiapkan diri agar dapat merespons tekanan secara lebih rasional.

2. Choke karya Sian Beilock

Pernah merasa menguasai sesuatu, tetapi justru gagal saat harus membuktikannya? Fenomena ini menjadi fokus ilmuwan kognitif Sian Beilock dalam Choke, yang membahas bagaimana tekanan dapat mengganggu performa dalam ujian, olahraga, presentasi, wawancara kerja, hingga percakapan penting.

Beilock menjelaskan bahwa kecemasan dapat membebani memori kerja, sementara terlalu banyak memantau diri sendiri dapat mengganggu keterampilan yang sebelumnya berjalan otomatis.

Karena itu, kegagalan di bawah tekanan tidak selalu berarti kurangnya kemampuan, melainkan dapat dipengaruhi mekanisme psikologis dan kognitif.

Choke membantu pembaca memahami sumber gangguan tersebut sekaligus belajar mengelola tekanan agar tetap mampu tampil optimal.

Baca Juga: 8 Rekomendasi Buku untuk Menghadapi Quarter-Life Crisis Sebelum Usia 30