Mata juling pada anak tidak selalu terlihat secara terus-menerus. Pada beberapa kasus, posisi mata tampak normal tetapi dapat bergeser ketika anak sedang lelah, mengantuk, sakit, melamun, atau kehilangan fokus.
Kondisi tersebut dikenal sebagai strabismus intermittent atau mata juling yang muncul secara hilang-timbul. Ada pula strabismus latent atau tersembunyi yang kecenderungan pergeseran matanya baru terlihat melalui pemeriksaan tertentu.
Dalam acara peresmian Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC @ Menteng pada Senin (10/08/2026), Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), mengatakan kondisi tersebut membuat orang tua perlu lebih memperhatikan kebiasaan anak saat melihat.
Baca Juga: Jangan Dianggap Sepele! Mata Juling pada Anak Bisa Picu Mata Malas
“Strabismus tersembunyi atau strabismus latent tidak selalu mudah dikenali. Posisi mata dapat terlihat normal ketika anak fokus, lalu tampak bergeser saat lelah atau melalui foto dan rekaman video,” jelas dr. Lely.
Salah satu tanda yang dapat diperhatikan adalah kebiasaan anak memiringkan kepala ketika melihat. Anak juga bisa menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, atau mengalami kesulitan menangkap benda.
Orang tua juga perlu memperhatikan apabila anak sering menabrak benda, kesulitan memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda.
Pada beberapa kasus, tanda-tanda tersebut bisa muncul tanpa mata terlihat juling secara permanen. Karena itu, pemeriksaan mata secara menyeluruh tetap diperlukan untuk memastikan kondisi yang dialami anak.
Baca Juga: 6 Penyebab Mata Juling, Gangguan Otot hingga Penyakit Tertentu
Kenali Jenis Mata Juling
Strabismus dapat dibedakan berdasarkan arah penyimpangan mata. Esotropia terjadi ketika mata bergeser ke arah dalam atau mendekati hidung, sedangkan exotropia merupakan kondisi ketika mata bergeser ke arah luar.
Sementara itu, pergeseran mata ke atas disebut hypertropia dan pergeseran ke bawah disebut hypotropia. Beberapa pasien juga dapat mengalami pola kombinasi atau perubahan arah yang lebih kompleks.
Berdasarkan pola kemunculannya, strabismus juga dapat berupa manifest atau nyata, latent atau tersembunyi, intermittent atau hilang-timbul, serta alternating atau bergantian antara mata kanan dan kiri.
Kondisi tersebut tidak sebaiknya dianggap akan hilang dengan sendirinya, terutama apabila ketidaksejajaran mata menetap setelah usia empat bulan.
“Apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia,” kata dr. Lely.
Deteksi awal dapat dilakukan dengan memperhatikan kesimetrisan refleks cahaya pada kornea kedua mata, posisi bola mata, serta perubahan arah pandangan yang terlihat dalam foto atau video.
Namun, temuan tersebut perlu dikonfirmasi melalui pemeriksaan mata secara menyeluruh. Pemeriksaan dapat mencakup ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, posisi dan pergerakan bola mata, serta fungsi penglihatan binokular.
Pemeriksaan juga penting untuk mengetahui apakah anak mengalami ambliopia atau mata malas sehingga penanganan dapat diberikan sesuai kondisi.
“Orang tua tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan,” tegasnya.
Semakin dini kondisi diketahui, dokter dapat menentukan penanganan yang sesuai dengan usia, penyebab, serta kondisi penglihatan masing-masing anak.