Mata juling atau strabismus pada anak kerap dianggap hanya sebagai persoalan penampilan. Padahal, kondisi ketika kedua mata tidak sejajar tersebut dapat memengaruhi perkembangan fungsi penglihatan dan meningkatkan risiko ambliopia atau mata malas.
Strabismus terjadi ketika satu mata melihat ke arah tertentu, sementara mata lainnya mengalami penyimpangan. Pergeseran tersebut dapat mengarah ke dalam, luar, atas, maupun bawah.
Dokter Spesialis Mata Konsultan Pediatric Ophthalmology & Strabismus JEC Eye Hospitals and Clinics, dr. Lely Retno Wulandari, SpM(K), mengatakan strabismus yang menetap pada anak perlu diperiksa karena sistem penglihatan masih dalam tahap perkembangan.
“Pada bayi berusia sekitar tiga hingga empat bulan, mata terkadang tampak belum sepenuhnya terkoordinasi karena sistem penglihatan masih berkembang. Namun, apabila ketidaksejajaran menetap setelah usia empat bulan, mata juling umumnya tidak membaik dengan sendirinya dan dapat memengaruhi penglihatan tiga dimensi, persepsi jarak, serta meningkatkan risiko ambliopia,” jelas dr. Lely dalam acara peresmian Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC @ Menteng pada Senin (10/08/2026).
Ambliopia atau mata malas merupakan kondisi ketika salah satu mata tidak berkembang dengan optimal sehingga kemampuan melihatnya menjadi lebih rendah dibandingkan mata lainnya. Kondisi tersebut dapat terjadi ketika otak lebih banyak mengandalkan mata yang memiliki penglihatan lebih baik.
Baca Juga: 6 Penyebab Mata Juling, Gangguan Otot hingga Penyakit Tertentu
Selain ambliopia, strabismus juga dapat mengganggu kemampuan kedua mata untuk bekerja secara bersamaan. Padahal, koordinasi kedua mata berperan dalam menghasilkan penglihatan binokular dan membantu seseorang memperkirakan kedalaman serta jarak suatu objek.
Karena itu, orang tua disarankan tidak menunggu anak bertambah besar untuk memeriksakan kondisi tersebut.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan antara lain anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak benda di sekitarnya, hingga kesulitan memperkirakan jarak.
Strabismus juga tidak selalu terlihat sepanjang waktu. Pada jenis tertentu, mata dapat tampak sejajar dalam kondisi normal tetapi mengalami penyimpangan ketika anak sedang lelah, mengantuk, sakit, melamun, atau kehilangan fokus.
“Karena itu, orang tua tidak perlu menunggu anak dewasa untuk melakukan pemeriksaan, terutama jika anak sering memiringkan kepala, menutup salah satu mata, menyipit ketika melihat, kesulitan menangkap benda, sering menabrak, sulit memperkirakan jarak, atau mengeluhkan penglihatan ganda,” ujar Dr. Lely.
Menurutnya, strabismus dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, hingga gangguan pada otot atau saraf penggerak mata.
Pada kondisi tertentu, penyakit seperti diabetes, hipertensi, trauma, maupun gangguan neurologis juga dapat menjadi faktor yang memicu strabismus, terutama pada orang dewasa.
Penanganan strabismus sendiri tidak selalu harus melalui operasi. Dokter akan menentukan terapi berdasarkan penyebab, usia pasien, arah dan besar deviasi, ketajaman penglihatan, kelainan refraksi, keberadaan ambliopia, serta fungsi penglihatan binokular.
Terapi dapat berupa penggunaan kacamata, lensa khusus atau prisma pada kondisi tertentu, terapi ambliopia, latihan penglihatan, hingga operasi otot mata apabila memang dibutuhkan.
Dengan deteksi dan penanganan yang tepat, pengobatan strabismus diharapkan tidak hanya memperbaiki posisi mata, tetapi juga membantu mengoptimalkan fungsi penglihatan dan kualitas hidup anak.