FUGUKU membuka babak baru dengan membawa karakter eksperimentalnya ke dalam busana yang lebih dekat dengan keseharian. Melalui GROUND ZERO, lini fashion ready-to-wear ini mengeksplorasi bentuk, tekstur, dan material dalam siluet yang lebih kasual. Koleksi tersebut diluncurkan di PILLAR, Plaza Indonesia Lantai 3, Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Founder FUGUKU, Savirra Lavinia, mengatakan, koleksi GROUND ZERO dikembangkan untuk menghadirkan pilihan busana yang lebih dekat dengan keseharian tanpa menghilangkan karakter eksperimental yang selama ini melekat pada FUGUKU.
“Jadi hari ini di PILLAR FUGUKU sedang ada launching produk baru, yaitu produk ready-to-wear line kita. Nah, kita lagi mencoba untuk menggabungkan desain yang lebih kasual dan lebih sehari-hari di pakaian,” ungkap Savirra, saat ditemui Olenka, di PILLAR Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (25/9/2026).

Savirra melanjutkan, GROUND ZERO sendiri berangkat dari gagasan untuk memulai kembali, sebuah ruang ketika batas-batas lama melebur dan hitam-putih membuka diri pada berbagai kemungkinan.
Filosofi 'Because there is no right or wrong' tersebut menjadi ajakan bagi setiap orang untuk lebih leluasa bereksperimen dengan busana dan memberikan sentuhan personal pada penampilannya.
Konsep tersebut juga diterjemahkan melalui pendekatan desain yang lebih fleksibel. Koleksi ini menyasar konsumen lintas generasi, khususnya Gen Z, milenial, hingga Gen X yang memiliki aktivitas beragam, mulai dari bekerja hingga bersosialisasi.
“Jadi kita memang tertuju pada Gen Z dan milenial beserta Gen X juga. Karena mereka ini kan yang sekarang di umur-umur sedang bekerja, terus juga sedang nongkrong. Jadi kita pengen menampilkan koleksi yang mereka bisa pakai secara versatile. Mereka bisa pakai misalnya ke kantor, tapi habis itu mau ngopi juga bisa,” kata Savirra.
Di balik GROUND ZERO, Savirra membawa ketertarikannya terhadap dunia futuristik dan film bergenre distopia. Salah satu inspirasinya datang dari film Dune, terutama gagasan mengenai kehancuran, kelahiran kembali, serta dunia yang berada di antara masa lalu dan masa depan.
“Idenya itu sebenarnya terinspirasi dari Dune Movie. Aku memang suka dystopian dream movies. Jadi dari inspirasinya sendiri aku memang sangat tertarik dengan yang berbau kriptik dan juga yang berbau apokalips,” tutur Savirra.
“Misalnya, kayak dunia yang kiamat terus terlahir kembali. Itu really interests me. Aku suka konsep yang futuristic kayak gitu. Terus itu ditranslate ke koleksinya,” lanjutnya.
Inspirasi tersebut kemudian diterjemahkan melalui permainan tekstur dan bentuk. Detail spike atau duri yang selama ini menjadi identitas FUGUKU tetap hadir, tetapi dipadukan dengan teknik wrinkle untuk menciptakan siluet yang lebih eksperimental dan memberikan kesan distopia.
“Kalau bisa dilihat memang koleksinya itu banyak wrinkle, banyak yang kusut-kusut bajunya. Terus kriptiknya itu dari tekstur-tekstur FUGUKU yang memang spike. Dan itu digabungkan dengan wrinkle-wrinkle teknik. Jadinya melahirkan bentuk yang baru, bentuk yang terinspirasi dari dystopian vibe,” jelasnya.
Dipaparkan Savirra, untuk presentasi GROUND ZERO di PILLAR, FUGUKU menghadirkan 9 tampilan. Untuk pertama kalinya, FUGUKU menghadirkan desain kemeja dari perpaduan katun dan polyester berbahan plastik daur ulang, dengan detail duri khasnya. Tekstur yang tak terduga dan siluet tak konvensional memberikan dimensi skulptural pada busana yang tetap dirancang untuk kebutuhan sehari-hari.

Seluruh koleksi dirancang secara unisex untuk pria maupun perempuan. Selain pakaian, GROUND ZERO juga dilengkapi lini tas baru yang dirancang membawa kebutuhan sehari-hari dengan karakter khas FUGUKU.
Koleksi ini sekaligus memperkenalkan pendekatan baru dari sisi warna. Berbeda dari sejumlah koleksi FUGUKU sebelumnya yang identik dengan warna vibrant dan bold, GROUND ZERO menggunakan palet hitam dan putih.
“Kalau untuk Ground Zero ini, karena terinspirasi dari black and white, sekarang sudah nggak ada lagi yang benar atau salah. Dunia tuh sudah sangat pesat dan sangat luas. Jadi makanya yang diambil itu memang putih dan hitam,” tutur Savirra.
Menurut Savirra, penggunaan dua warna dasar tersebut menjadi salah satu perubahan penting dalam eksplorasi FUGUKU.
“Produk FUGUKU rata-rata terlahir dengan warna-warna yang vibrant, warna-warna yang sangat bold. Nah, sekarang di Ground Zero ini kita benar-benar berawal dari warna yang sangat basic, yaitu hitam dan putih. Itu lumayan satu gerakan baru dari kita yang kita belum pernah lakukan sebelumnya,” katanya.
Baca Juga: Puragraph, Sister Brand Purana, Bawa Arsitektur Indonesia ke Busana Modern dan Timeless