Hubungan langsung antara media dengan audiens atau pembaca penting dilakukan di tengah penurunan trafik akibat perkembangan artificial intelligence (AI).
Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMS), Wahyu Dhyatmika, mengatakan media dan jurnalis harus mulai membangun hubungan yang lebih dekat dengan pembaca melalui komunitas, forum diskusi, serta pendekatan berbasis kebutuhan audiens atau user needs model. Ia mengatakan, media tidak akan mampu membangun kepercayaan publik apabila tidak mengenal profil pembaca sendiri.
"Bagaimana wartawan ingin dipercaya publik kalau medianya sendiri tidak kenal siapa publiknya?" katanya saat menjadi pembicara dalam kegiatan Kelas Jurnalis HAM bertajuk Media Pers Pilar Penting Pembangunan Peradaban HAM di Indonesia yang digelar di Bandung, belum lama ini.
Baca Juga: Menteri HAM: Media Itu Pilar Pembangunan Peradaban HAM
Menurut Wahyu, pihak yang dapat menjaga keberlangsungan hidup media adalah audiens atau masyarakat yang benar-benar merasakan manfaat dari informasi yang dihasilkan oleh jurnalis. Oleh karena itu, media tidak boleh mengabaikan hubungan dengan pembaca.
Ia menilai bahwa selama ini banyak media menganggap tugas jurnalistik selesai ketika berita telah dipublikasikan di sistem manajemen konten (content management system atau CMS). Padahal, tanggung jawab media justru berlanjut pada bagaimana menjaga percakapan dan interaksi setelah berita diterbitkan.
"Selama ini kita di media merasa tugas selesai ketika berita dipublikasikan. Saat tombol publish ditekan di CMS masing-masing, kita menganggap pekerjaan berakhir, itu keliru," ujarnya.
Wahyu menyoroti banyak media yang mengklaim memiliki jutaan pembaca, namun tidak benar-benar memahami siapa audiens mereka. Menurutnya, sebagian besar media hanya mengenal angka klik dan pageview, tetapi tidak memiliki pemahaman mengenai identitas, kebutuhan, maupun karakter pembaca.
Ia menilai, salah satu kesalahan terbesar media saat ini adalah menyerahkan distribusi informasi sepenuhnya kepada platform digital seperti Facebook, Google, hingga X.
"Coba cek media masing-masing. Ada yang mengklaim punya 200 ribu pembaca, ada yang mengaku 100 juta pembaca. Tapi apakah punya database nama dan alamat pembacanya? Tahu siapa orang-orang yang mengonsumsi informasi itu? Sebagian besar media tidak tahu," tuturnya.
Ia menegaskan bahwa media tidak lagi dapat hanya mengandalkan trafik sebagai ukuran utama keberhasilan. Menurutnya, aspek paling penting dalam industri media saat ini adalah kepercayaan publik atau trust. Kondisi tersebut masih bisa diperbaiki dengan mulai memprioritaskan kebutuhan pembaca dan membangun kembali hubungan langsung dengan audiens.
Kemudian media harus memiliki transparansi, akuntabilitas, serta identitas moral yang jelas. Media juga perlu menjelaskan proses produksi berita, penggunaan narasumber, hingga tahapan peliputan kepada publik.
"Ketika terjadi kesalahan, media juga diminta tidak diam-diam menghapus berita tanpa penjelasan. Koreksi dan permintaan maaf secara terbuka justru menjadi bagian penting dalam membangun kredibilitas," tegasnya.
Di tengah perkembangan teknologi AI, Wahyu justru menilai peran wartawan akan semakin penting. Menurutnya, verifikasi berbasis kerja manusia atau human-centered verification menjadi kunci agar publik mampu membedakan fakta dengan manipulasi informasi.
Dalam menjalankan tugas wartawan dituntut tetap memegang prinsip dasar jurnalistik saat turun ke lapangan. Cover both side, verifikasi, dan konfirmasi harus tetap dijalankan, terutama saat meliput isu kemanusiaan atau HAM.
"Hal tersebut menjadi pembeda utama antara laporan jurnalistik dengan laporan LSM. Jika LSM bertugas menyuarakan kelompok terdampak tanpa kewajiban melihat sudut pandang lain, tapi wartawan memiliki tanggung jawab etik untuk menghadirkan berbagai perspektif dalam sebuah peristiwa," pungkasnya.