Dalam menghadapi infeksi virus, tubuh memiliki sistem pertahanan yang kompleks. Sistem imun bawaan akan mengenali komponen virus dan memicu respons, termasuk melalui interferon dan sitokin, untuk membantu menghambat replikasi virus. Sel natural killer dan makrofag juga berperan dalam membatasi penyebaran infeksi.
Selanjutnya, sistem imun adaptif bekerja melalui antibodi yang diproduksi limfosit B serta limfosit T yang membantu mengoordinasikan respons imun dan menghancurkan sel yang terinfeksi.
Respons imun tersebut perlu berlangsung secara seimbang karena respons yang terlalu lemah maupun inflamasi yang berlebihan sama-sama dapat menimbulkan dampak merugikan.
“Belum ada bukti uji klinis berkualitas tinggi bahwa grounding dapat menurunkan risiko tertular virus, viral load, lama infeksi, rawat inap, atau kematian. Jadi, grounding belum dapat direkomendasikan sebagai pencegahan maupun terapi,” jelasnya.
Meski belum dapat dijadikan metode untuk meningkatkan imunitas atau mencegah infeksi virus, dr. Widya mengatakan grounding tetap dapat dilakukan sebagai aktivitas rekreasi dan relaksasi selama dilakukan dengan aman. Namun, aktivitas tersebut tidak seharusnya menggantikan intervensi medis yang telah terbukti.
Untuk mencegah infeksi, masyarakat tetap perlu mengandalkan langkah-langkah yang telah memiliki dasar ilmiah, seperti vaksinasi, memastikan ventilasi yang baik, menjaga kebersihan tangan, menerapkan etika batuk, menggunakan masker dalam situasi berisiko, serta menjalani pemeriksaan dan mendapatkan terapi yang sesuai ketika mengalami gejala atau infeksi.
Bagi masyarakat perkotaan, menikmati alam dan berjalan santai tanpa alas kaki atau dengan alas kaki sesuai kebutuhan juga dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat. Namun, manfaat relaksasi atau aktivitas fisik tersebut sebaiknya tidak secara otomatis dikaitkan dengan kemampuan mencegah atau menyembuhkan infeksi virus.
Di sisi lain, aktivitas grounding tanpa alas kaki juga perlu memperhatikan kondisi dan keamanan individu. Orang dengan diabetes, gangguan saraf pada kaki, luka terbuka, atau gangguan keseimbangan perlu lebih berhati-hati karena aktivitas tanpa alas kaki dapat meningkatkan risiko cedera maupun infeksi.
“Bagi orang dengan diabetes, gangguan saraf kaki, luka terbuka, atau gangguan keseimbangan, grounding dengan aktivitas tanpa alas kaki perlu dilakukan lebih hati-hati. Permukaan harus aman dari benda tajam, panas berlebihan, dan sumber infeksi agar tetap aman,” ucapnya.
Baca Juga: 20 Kota Paling Ramah Pejalan Kaki 2026, Gak Ada dari Indonesia