Pemerintah Iran menutup pintu dialog dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel guna mencapai gencatan senjata di tengah perang ketiga negara yang terus bergejolak.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi menegaskan dialog dengan AS dan Israel adalah kemustahilan, tak ada lagi ruang diskusi sebab genderang perang terlanjur ditabuh.   

Baca Juga: Harga Minyak Naik Turun Imbas Perang Iran, Pemerintah Tak Mau Buru-buru Ubah Asumsi APBN

Menutup pintu dialog, Abbas Araghchi menegaskan pihaknya bakal terus membombardir Israel dan sekutunya, dia mengatakan perang terus berlanjut. 

“Tembakan terus berlanjut, dan kami sangat siap untuk terus menghujani mereka dengan rudal selama diperlukan. Berbicara dengan orang Amerika tidak lagi masuk dalam agenda kami,” kata Abbas Araghchi dalam wawancara bersama PBS News dilansir Kamis (12/3/2026). 

Terpisah, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf lewat sebuah unggahan di akun X pribadinya menegaskan, pemerintah Iran tak mau ada gencatan senjata. Iran kata dia tak butuh negosiasi. 

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump tetap menyampaikan sikap tegas. Dalam pernyataannya di Florida dan melalui media sosial Truth Social, Trump memperingatkan Iran agar tidak mengganggu jalur distribusi energi global.

Ia menyatakan bahwa jika Iran menghentikan aliran minyak melalui Selat Hormuz, maka respons AS akan jauh lebih keras.

“Jika Iran melakukan apa pun yang menghentikan aliran minyak di Selat Hormuz, mereka akan dipukul oleh Amerika Serikat dua puluh kali lipat lebih keras,” tulisnya.

Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini telah mendorong kenaikan harga minyak global dan memicu kekhawatiran pasar internasional.

Baca Juga: Puan Wanti-wanti Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok Imbas Perang Iran

Di tengah saling ancam kedua negara, belum terlihat tanda-tanda deeskalasi. Iran menegaskan tidak akan membuka dialog, sementara Washington memperingatkan konsekuensi berat jika kepentingan strategisnya terganggu. Situasi ini membuat stabilitas kawasan Timur Tengah kembali berada dalam tekanan serius.