Tito Karnavian merupakan salah satu pejabat dengan perjalan karier paling sukses. Meski memulainya dari bawah namun Tito melesat cepat, bahkan saat ini ia dipercayakan menjadi Menteri Dalam Negeri di pemerintahan Prabowo Subianto.
Perjalanan karier Tito dimulai dari dunia Kepolisian. Pria asal Palembang kelahiran 26 Oktober 1964 itu sejak kecil dikenal sebagai sosok smart dan pintar.
Dibesarkan oleh ayahnya Muhammad Saleh yang berprofesi sebagai wartawan RRI, Tito digembleng dengan disiplin tinggi, Tito kecil juga dikenal sebagai anak yang ringan tangan, dia dengan sukarela membantu siapa saja yang membutuhkan pertolongan.
Baca Juga: Tito Karnavian: Dunia Ini Anarki
Pintar, berbakat dan suka menolong sesama adalah kombinasi sifat alamiah yang dikemudian hari mengantarnya masuk dunia kepolisian. Dunia yang sama sekali tak pernah terlintas di pikiran ayah ibunya.
Orang tuanya ketika itu ingin Tito menjadi dokter, sewaktu lulus SMA, Tito sempat mendaftar ke fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang dan dinyatakan lolos, disaat bersamaan ia juga dinyatakan lulus tes dan seleksi di beberapa Universitas ternama lainnya seperti Sekolah Tinggi Akuntansi Nasional (STAN) Jakarta, Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB) hingga Universitas Sriwijaya (UNSRI).
Lolosnya Tito di sejumlah perguruan tinggi beken itu menjadi bukti nyata bahwa kecerdasan Tito bukan sekadar omong kosong, itu nyata apa adanya.
Kendati lulus di waktu bersamaan di beberapa kampus ternama, namun Tito tak mau mengambil salah satunnya. Ia punya pilihan sendiri, masalah ekonomi menjadi pertimbangan utama. Ia tak mau membebankan orang tuanya dengan ongkos kuliah yang sangat mahal.
Atas alasan tersebut Tito berinisiatif mencari sekolah gratis atau berbiaya murah, takdir lalu membawanya ke Akademi Polisi (Akpol) Magelang. Di sana ia juga dinyatakan lolos.
“Alhamdulillah saya lima-limanya diterima, termasuk saya pernah diterima di kedokteran UNSRI,” kata Tito dilansir Olenka.id Selasa (13/1/2026).
Berangkat dari keluarga dengan kondisi ekonomi pas-pasan, Tito jelas tak mau main-main, ia langsung tancap gas, belajarnya ngebut.
Tak ada perjuangan yang sia-sia, begitulah kalimat yang pas menggambarkan upaya Tito menuntaskan pendidikannya.
Perjuangan kerasnya berbuah manis, ia diganjar bintang Adhi Makayasa pada 1987 setelah menjadi lulusan Akpol termuda. Kala itu tito menuntaskan studinya di usia 23 tahun yang menjadikannya paling belia diantara teman-teman seangkatannya.
Sukses Besar di Kepolisian
Menjadi lulusan terbaik Akpol Tito langsung mencuri perhatian petinggi-petinggi di korps Bhayangkara itu, ia kemudian diamanatkan tugas menjadi Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Pusat.
Dari sini Tito mulai menghabiskan banyak waktunya di reserse kariernya pun terus menanjak mulai dari Polsek,
Polres, Polda, hingga di Polri. Berbagai jabatan penting di korps baju coklat itu pernah ia emban mulai dari reserse, sespri Polri, anti teror, hingga asrena Polri.
Kendati kariernya di kepolisian menanjak mulus, namun nama Tito kala itu masih belum banyak dikenal publik. Tito baru meledak ketika ia mengungkap kasus pembunuhan Hakim Agung Safiudin, pada tahun 2001.
Baca Juga: Dari UGM hingga Akabri, Begini Rekam Jejak Pendidikan Tito Karnavian yang Lolos di 5 Kampus Ternama
Kala itu Tito didapuk menjadi ketua Tim Kobra bentukan Reskrim Polda Metro Jaya. Disini Tito sukses besar dalam mengungkap kasus ini, ia bahkan menangkap Putra Presiden ke-2 RI Soeharto yakini Tommy Soeharto yang diketahui sebagai dalang di balik kasus kriminal itu.
Pengungkapan kasus ini membawa Tito terbang lebih tinggi, ia kemudian diganjar pangkat Ajun Komisaris Besar (AKBP). Sebelumnya ia berpangkat Mayor.
Dari kasus ini, Tito terus menorehkan sejumlah prestasi gemilang lainnya, tiga tahun setelahnya ia ditugaskan di detasemen 88 Anti Teror Polda Metro Jaya. Kesuksesannya memberantas terorisme Tanah Air semakin melambungkan namanya. Ketika itu, Tito memimpin tim antiteror yang yang beranggotakan 75 personil.
Prestasi Tito di detasemen 88 Anti Teror Polda Metro Jaya tidak kaleng-kaleng, banyak capaian yang ia torehkan sewaktu mengampuh divisi ini, namun yang paling menggemparkan publik adalah ketika Tito melumpuhkan teroris Azahari Husin dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur, 9 November 2005.
Dari capaiannya ini, Tito kembali diganjar kenaikan pangkat luar biasa menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes).
Beberapa tahun setelahnya tepatnya pada 2007, Tito kembali membuat publik terbelalak, ia berhasil memimpin timnya menangkap buronan kasus konflik Poso pada 2007. Tito memang tak terbendung, dua tahun setelahnya Tito berhasil membengkuk pimpinan teroris Noordin M Top.
Prestasi mentereng Tito memberantas terorisme membuat dirinya ditugaskan ke Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), namun tak lama berselang ia ditugaskan menjadi Kapolda Papua.
Di Bumi Cenderawasih, Tito tak menghabiskan waktu lama, di sana ia hanya bertugas selama dua tahun terhitung sejak 2012 hingga 2014.
Setahun setelahnya, Tito benar-benar memuncaki karier kepolisian. Nama semakin melambung setelah didapuk menjadi Kapolda Metro Jaya. Kasus Bom Sarinah Thamrin, Jakarta kembali meledakan namanya di angkasa.
Dari sini Tito ditunjuk menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) setelah hanya sembilan bulan menjabat Kapolda. Pangkatnya pun ikut naik dari Inspektur Jenderal Polisi (IRJEN) jadi Komisaris Jenderal Polisi (KOMJEN).
Baru tiga bulan di BNPT, ia sudah diminta oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Badrodin Haiti karena pensiun.
Penunjukkan Tito memotong karier seniornya yang berpeluang untuk menjadi Kapolri. Para seniornya yang berbintang tiga masih banyak, termasuk Wakapolri Budi Gunawan.
Meski demikian, Nama Tito tetap diajukan oleh presiden ke DPR dan dapat respon positif. Presiden pun melantik Tito menjadi Kapolri sejak Juni 2016. Tentunya dengan diiringi pangkat bintang empat menjadi Jenderal (Pol) Tito Karnavian.
Karier Tito tidak berhenti di situ saja, di luar dunia kepolisian ia juga mendulang sukses besar, saat masih menjabat Kapolri, Tito diminta menjadi Menteri Dalam Negeri oleh Presiden Joko Widodo. Ia resmi dilantik pada 23 Oktober 2019. Jabatan Mendagri itu masih ia emban sampai di era Presiden Prabowo Subianto.