Data internal Allianz Utama Indonesia mencatat, lebih dari 41.000 pembelian polis Asuransi Perjalanan Internasional hingga Juni 2026. Untuk destinasi luar negeri, Jepang masih menjadi tujuan favorit masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Japan National Tourism Organization (JNTO), sebanyak 327.000 wisatawan Indonesia mengunjungi Jepang sepanjang Januari – Mei 2026, meningkat sebesar 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Ignatius Hendrawan, Direktur & Chief Technical Officer Allianz Utama Indonesia, mengingatkan, selain melakukan riset mengenai destinasi dan menyusun anggaran, wisatawan perlu mempertimbangkan perlindungan yang tepat sebagai bagian dari persiapan. "Dengan begitu, wisatawan tidak hanya dapat mengoptimalkan waktu dan menghindari pengeluaran yang tidak perlu, tetapi juga lebih siap menghadapi berbagai risiko yang mungkin terjadi selama perjalanan,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Baca Juga: 80% Wisatawan Muslim Gunakan Teknologi AI, Malaysia Pertahankan Destinasi Terpopuler
Berangkat dari pengalaman menangani berbagai klaim Asuransi Perjalanan, Allianz Utama merangkum empat pelajaran yang dapat membantu wisatawan, khususnya first-time traveler, mempersiapkan perjalanan ke Jepang dengan lebih matang:
1. Susun itinerary yang realistis
Bagi banyak first-time traveler, mengunjungi destinasi ikonik seperti Tokyo Skytree menjadi salah satu agenda utama. Namun, tidak sedikit wisatawan yang baru menyadari bahwa destinasi paling populer belum tentu selalu memberikan pengalaman yang paling sepadan dengan biaya maupun waktu yang dikeluarkan. Pada musim liburan, antrean yang panjang dan kepadatan pengunjung dapat mengurangi kenyamanan menikmati perjalanan.
Padahal, Tokyo memiliki sejumlah observatorium gratis seperti Tokyo Metropolitan Government Building maupun Bunkyo Civic Center yang menawarkan panorama kota yang tidak kalah menarik. Dengan meluangkan waktu untuk melakukan riset sebelum berangkat, wisatawan dapat menemukan alternatif destinasi yang lebih sesuai dengan preferensi, anggaran, maupun waktu yang dimiliki.
2. Jangan langsung beli JR Pass tanpa menghitung rute perjalanan
Japan Rail Pass (JR Pass) selama ini dikenal sebagai pilihan praktis untuk bepergian antarkota di Jepang. Namun, setelah adanya penyesuaian harga, JR Pass tidak selalu menjadi pilihan yang paling ekonomis.
Bagi wisatawan yang hanya berkunjung ke beberapa kota atau melakukan satu kali perjalanan menggunakan Shinkansen, membeli tiket secara terpisah atau memanfaatkan regional pass justru dapat memberikan penghematan yang lebih besar. Karena itu, memahami rute perjalanan sejak awal menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat membantu mengoptimalkan anggaran liburan.
3. Biaya tersembunyi bisa membuat anggaran membengkak
Selain tiket pesawat dan akomodasi, terdapat sejumlah biaya lain yang sering kali baru disadari saat proses perencanaan maupun ketika sudah berada di Jepang. Mulai 1 Juli 2026, Pemerintah Jepang resmi menaikkan biaya pengajuan visa bagi wisatawan asing. Biaya single-entry visa meningkat dari 3.000 yen menjadi 15.000 yen, sedangkan multiple-entry visa naik dari 6.000 yen menjadi 30.000 yen.
Selain biaya visa, wisatawan juga perlu memperhitungkan pengeluaran lain seperti transportasi lokal, city tax hotel, biaya bagasi tambahan, hingga reservasi untuk beberapa atraksi wisata. Menyusun anggaran secara lebih menyeluruh sejak awal dapat membantu menghindari pengeluaran yang tidak direncanakan selama perjalanan.
4. Klaim perjalanan menunjukkan bahwa risiko yang paling sering terjadi justru yang paling sering diabaikan
Selain mempersiapkan itinerary dan anggaran, wisatawan juga perlu mengantisipasi berbagai risiko yang dapat terjadi selama perjalanan. Berdasarkan data klaim Asuransi Perjalanan Allianz Utama sepanjang 2026, penundaan perjalanan menjadi klaim yang paling banyak diajukan nasabah dengan 2.123 kasus, diikuti perlindungan terhadap bagasi sebanyak 1.087 kasus, serta biaya medis dan biaya terkait medis di luar negeri sebanyak 579 kasus.
Khusus untuk perjalanan ke Jepang, Allianz Utama mencatat pola yang sedikit berbeda. Penundaan perjalanan tetap menjadi klaim terbanyak dengan 188 kasus, diikuti gangguan perjalanan dan kehilangan transportasi lanjutan sebanyak 106 kasus, biaya medis dan biaya terkait medis di luar negeri sebanyak 87 kasus, serta perlindungan terhadap bagasi sebanyak 84 kasus.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa gangguan yang paling sering dialami wisatawan bukanlah kejadian ekstrem, melainkan risiko yang cukup umum terjadi selama perjalanan. Keterlambatan bagasi, penundaan penerbangan, maupun kebutuhan perawatan medis menjadi contoh risiko yang dapat mengganggu itinerary sekaligus memunculkan pengeluaran tambahan apabila tidak diantisipasi sejak awal.
Sebagai salah satu bentuk perlindungan bagi wisatawan yang bepergian ke luar negeri, Allianz TravelPro, yakni solusi asuransi perjalanan yang komprehensif dan fleksibel, yang kini juga bisa dibeli secara online melalui OptimAll. Perlindungan ini memberikan manfaat seperti perlindungan medis, evakuasi dan repatriasi medis darurat, penundaan penerbangan, kehilangan bagasi, serta berbagai ketidaknyamanan lainnya yang dapat terjadi selama perjalanan ke dan dari destinasi tujuan.
“Minat masyarakat Indonesia untuk bepergian ke luar negeri terus meningkat, termasuk ke Jepang. Karena itu, kami mengajak masyarakat untuk mempersiapkan perjalanan secara menyeluruh, tidak hanya dengan menyusun itinerary dan anggaran, tetapi juga mempertimbangkan perlindungan Asuransi Perjalanan. Dengan begitu, wisatawan dapat lebih fokus menikmati pengalaman selama liburan tanpa harus terbebani oleh risiko finansial apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tutup Ignatius Hendrawan.