Teh 2 Tang menjadi salah satu produsen teh Tanah Air yang telah merajai industri minuman ringan di Indonesia. Didirikan oleh Kwee Pek Hoey pada 1942, Teh 2 Tang mampu bertahan hingga kini, ia sudah eksis sejak 84 tahun lalu kendati kepemimpinanan sudah berganti tiga generasi.
James Kwee adalah generasi ketiga yang saat ini mengemban tanggung jawab besar merawat usaha warisan keluarga itu. Memimpin perusahaan keluarga yang selama ini dijalankan dengan pakem dan tradisi berbeda bukan tanggung jawab dianggap enteng.
Baca Juga: Bisakah Minuman Manis Seperti Kopi dan Teh Penuhi Kebutuhan Cairan Tubuh?
James berada di persimpangan, di satu sisi ia harus menjaga dan merawat tradisi warisan keluarga, lalu pada sisi lain ia harus berjuang membawa Teh 2 Tang menghadapi perubahan iklim bisnis di era modern ini.
Biar bagaimanapun produsen teh legendaris itu harus tetap bisa bersaing di tengah munculnya produsen dan brand baru yang tengah menjamur.
Dihadapkan pada dua tuntutan yang datang dari arah dua arah berlawanan, James tak patah arang. Alih-alih kalang kabut, seluruh keputusan krusial diambil penuh ketenangan.
Perlu diketahui bahwa Teh 2 Tang telah menuliskan sejarahnya sendiri, bertahan di industri selama lebih dari 80 tahun adalah capaian gemilang yang membuat siapapun harus angkat topi.
Teh 2 Tang tidak lahir dari kemewahan di gedung-gedung pencakar langit dengan pabrik beratus-ratus hektar yang disokong modal besar dari investor ternama.
Ia lahir dari kesederhanaan, berangkat dari usaha rumahan karena hobi sang pendiri yang suka minum teh. Kini Teh 2 Tang tak hanya menguasai pasar domestik, racikan-racikan ajaibnya telah menembus batas negara.
"Saya merupakan generasi ketiga penerus perusahaan Teh 2 Tang, perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1942, dimana pada saat itu kami lahir dari industri rumah tangga yang kemudian berkembang menjadi industri pengolahan teh, baik dalam kemasan tradisional maupun modern seperti minuman teh siap minum," kata James Kwee saat berbincang dengan Olenka.id ditulis Sabtu (4/7/2026).
Perjalanan Teh 2 Tang hingga ke titik yang sekarang ini bukan perjalanan yang mulus-mulus saja, dinamika bisnis hingga persoalan internal perusahaan acap kali datang diwaktu yang tak terduga, tetapi itu hanya menjadi pelengkap cerita perjalanan panjang produsen teh legendaris asal Tegal, Jawa Tengah itu.
“Di awal proses regenerasi kepemimpinan di perusahaan kami bukanlah hal yang mudah,” ujar James.
Ketika menerima estafet kepemimpinan dari ayahnya yang merupakan generasi kedua, James kerap kali silang pendapat dengan sang ayah, ada beberapa pakem dan tradisi yang menjadi perdebatan.
Bagi sang ayah warisan tradisi adalah harga mati, itu tak bisa diutak atik. Tetapi di sisi lain tuntutan jaman yang terus berubah-ubah tidak bisa dielakan, itu kenyataan yang harus diterima dengan lapang dada, model bisnis harus bisa fleksibel menyesuaikan perubahan era dan permintaan pasar.
Perbedaan pendapat seperti ini adalah cerminanan bahwa Teh 2 Tang sedang berada di jalur yang benar. Tidak semua perdebatan itu buruk, justru sebaliknya dari perbedaan pandangan itu, lahir ide-ide baru demi kemajuan perusahaan.
Itu yang terjadi antara James dan sang ayah ketika di awal-awal masa transisi kepemimpinan.
Bukan menjadi sumber perpecahan, perbedaan pendapat adalah cara menyatukan ide-ide yang masih tercecer. Ia menjadi anak tangga baru yang membuat Teh 2 Tang perlahan menanjak naik ke tempat yang belum pernah mereka jamah selama ini.
Baca Juga: Teh Hijau dan Segudang Manfaatnya, Ini 6 Khasiat yang Perlu Diketahui
“Adanya perbedaan cara berpikir antara generasi kedua yaitu bapak dan saya sebagai generasi ketiga, namun seiring berjalannya waktu perbedaan tersebut akhirnya semakin hilang karena di jaman yang modern ini, kami harus mengikuti perkembangan. Dan akhirnya kini kami bisa bergerak mengembangkan produk dan market yang belum pernah kami garap sebelumnya,” ujarnya.
Modernisasi Sistem
Setelah dinyatakan memimpin Teh 2 Tang, James segera melakukan pembenahan di berbagai sektor, ada banyak hal yang disesuaikan namun fokusnya tertuju pada sistem lama yang telah dijalankan bertahun-tahun oleh generasi pendahulunya.
Lagi-lagi upaya melakukan perubahan membawanya pada masalah internal. Kali ini ia berhadapan dengan karyawan-karyawan senior yang terlanjur nyaman pada pakem dan tradisi lama.
Gelombang penolakan tak bisa dihindari. Ini jelas menjadi batu sandungan yang menghambat segala rencana yang telah tersusun rapi di kepala. Tetapi langkah James tak terhenti.
Dengan segala pendekatan yang diambil, upaya modernisasi sistem akhirnya membuahkan hasil.
“Tantangan terbesar saya sebagai generasi ketiga penerus adalah memodernisasi sistem-sistem lama dan karyawan-karyawan lama yang sudah terbiasa dengan sistem lama,” ucapnya.
Baca Juga: Ini 3 Manfaat Rutin Minum Teh yang Wajib Diketahui Wanita, Intip Yuk!
“Dalam proses modernisasi perusahaan, banyak adanya penolakan-penolakan tidak langsung dari karyawan yang sudah bekerja dari lama yang akhirnya menghambat proses peremajaan sistem perusahaan. Ditambah, karyawan lama sudah merasa nyaman mengikuti sistem lama dan akhirnya ketika saya melakukan perubahan-perubahan, itu menimbulkan gejolak di karyawan,” tambahnya memungkasi