Hasil survei terbaru Pusat Polling Indonesia (Puspoll Indonesia) menunjukkan tingkat keyakinan masyarakat terhadap masa depan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengalami penurunan signifikan. Meski tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden Prabowo masih berada di atas 60 persen, optimisme publik terhadap arah pemerintahan justru merosot tajam dibandingkan tahun lalu.
Direktur Eksekutif Puspoll Indonesia, Chamad Hojin, mengungkapkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja Presiden Prabowo saat ini berada di angka 64,8 persen. Angka tersebut turun dibandingkan survei Agustus 2025 yang mencapai 67,7 persen.
Meski penurunannya tidak terlalu besar, perubahan yang lebih mencolok terjadi pada tingkat keyakinan masyarakat terhadap masa depan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Baca Juga: Rakyat Dinilai Gak Peduli Prabowo atau Gibran di Pilpres 2029, yang Penting Sejahtera
Berdasarkan hasil survei, hanya 53,2 persen responden yang meyakini pemerintahan Prabowo-Gibran akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Padahal pada Agustus 2025, tingkat optimisme publik masih mencapai 80,4 persen.
Di sisi lain, jumlah masyarakat yang mengaku tidak yakin terhadap masa depan pemerintahan meningkat tajam. Jika sebelumnya hanya 15,8 persen, kini angkanya melonjak menjadi 43,1 persen.
Selain itu, Survei Puspoll juga mengukur persepsi masyarakat terhadap arah perjalanan bangsa.
Sebanyak 51,7 persen responden menilai Indonesia saat ini berjalan ke arah yang benar. Sementara itu, 34 persen responden berpendapat Indonesia justru bergerak ke arah yang salah.
Baca Juga: Hah! Prabowo Kantongi Identitas Bohir di Balik Aksi Demonstrasi?
Menurut Chamad, hasil survei tersebut menunjukkan pemerintah masih memiliki legitimasi yang cukup kuat karena mayoritas masyarakat masih menyatakan puas terhadap kinerja Presiden Prabowo.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya penurunan optimisme publik yang perlu menjadi perhatian serius pemerintah.
"Pemerintah belum berada dalam krisis legitimasi karena kepuasan terhadap Presiden masih berada pada tingkat mayoritas. Namun, masyarakat mulai kehilangan keyakinan bahwa keadaan akan segera membaik. Ini merupakan tekanan terhadap legitimasi berbasis kinerja yang perlu dijawab dengan hasil kebijakan yang nyata, bukan sekadar penguatan narasi komunikasi," ujar Chamad dikutip pada Minggu (28/06/2026).
Chamad menilai hasil survei tersebut dapat menjadi peringatan dini bagi pemerintah untuk segera melakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan.
Menurutnya, apabila tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat tidak segera direspons melalui kebijakan yang memberikan hasil nyata, kondisi tersebut berpotensi berkembang menjadi ketidakpuasan politik yang lebih luas.
Oleh karena itu, pemerintah didorong untuk tidak hanya memperkuat komunikasi publik, tetapi juga menghadirkan kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap arah pemerintahan.
Untuk diketahui, Survei Puspoll Indonesia dilaksanakan pada 18–26 Mei 2026 dengan melibatkan 2.400 responden yang dipilih menggunakan metode multistage random sampling atau pengambilan sampel acak bertingkat.
Baca Juga: Survei Terbaru: Mayoritas Pemilih Prabowo Tolak Pilkada Lewat DPRD
Survei memiliki margin of error ±2 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Pemilihan responden dilakukan secara proporsional di seluruh provinsi dengan memperhatikan komposisi wilayah perkotaan dan pedesaan.
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka menggunakan kuesioner terstruktur terhadap responden berusia minimal 17 tahun atau telah memenuhi syarat sebagai pemilih.
Untuk menjaga kualitas hasil survei, Puspoll juga melakukan quality control terhadap sekitar 20 persen dari total sampel yang dipilih secara acak.