Waspadai Kalori yang Masuk di Luar Waktu Makan

Penyebab stagnasi berat badan terkadang justru tidak berasal dari makanan utama.

Kalori tambahan dapat datang dari kebiasaan kecil yang sering tidak diperhitungkan, seperti makan biskuit saat minum teh, mengonsumsi camilan gurih atau namkeen di tempat kerja, menikmati makanan manis setelah makan malam, hingga mencicipi masakan berulang kali ketika memasak.

Jika kebiasaan tersebut dilakukan setiap hari, jumlah kalorinya dapat terakumulasi dan memengaruhi defisit energi secara keseluruhan.

Karena itu, ketika berat badan mengalami plateau, langkah yang lebih tepat bukan langsung mengurangi waktu makan atau memangkas porsi secara drastis.

Evaluasi terhadap pola makan secara menyeluruh justru lebih penting. Mulai dari ukuran porsi, penggunaan minyak goreng, jumlah protein dan serat, konsumsi minuman, camilan, hingga pola makan pada akhir pekan.

Jangan Langsung Menyimpulkan Mengalami Weight Loss Plateau

Angka di timbangan pada dasarnya dapat mengalami fluktuasi dari hari ke hari.

Berat badan bisa berubah karena berbagai faktor, termasuk jumlah cairan dalam tubuh, asupan makanan, aktivitas fisik, hingga waktu seseorang menimbang berat badan.

Karena itu, angka timbangan yang tidak berubah selama beberapa hari belum tentu menunjukkan weight loss plateau yang sebenarnya.

Evaluasi sebaiknya dilakukan dengan melihat tren berat badan dalam periode yang lebih panjang, bukan hanya berdasarkan perubahan dari satu hari ke hari berikutnya.

Berat Badan Bukan Sekadar Angka di Timbangan

Persoalan berat badan menjadi semakin penting ketika kelebihan berat badan disertai obesitas abdominal atau penumpukan lemak di area perut.

ICMR-NIN mencatat bahwa kelebihan lemak abdominal berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.

Di India, masalah kelebihan berat badan dan obesitas juga menunjukkan peningkatan. UNICEF India pada September 2025, berdasarkan data NFHS-5 periode 2019–2021, melaporkan bahwa kelebihan berat badan dan obesitas dialami oleh 24 persen perempuan dan 22,9 persen laki-laki.

Karena itu, berat badan yang stagnan tidak selalu harus dipandang sebagai kegagalan.

Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal untuk mengevaluasi kembali pola makan dan kebiasaan sehari-hari secara lebih cermat. Fokusnya bukan membuat diet semakin ketat atau ekstrem, melainkan mencari pola yang seimbang, realistis, dan dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Penafian: Artikel ini ditujukan untuk memberikan informasi umum dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter, ahli gizi, atau tenaga kesehatan untuk mendapatkan saran medis dan panduan diet yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu.

Baca Juga: Diet Ketat Tapi Perut Tetap Buncit? Hati-Hati, Bisa Jadi Tubuhmu Kurang Serat!