Pengamat Kebijakan Publik, Gigin Praginanto melontarkan kritik keras kepada Presiden Prabowo Subianto terkait penanganan bencana gempa bumi yang terjadi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kebakaran Hutan Kalimantan. 

Menurutnya penanganan dua bencana yang menarik perhatian dunia internasional belum dilaksanakan secara maksimal, alih-alih membaik kondisinya justru semakin memburuk hingga kini kendati pemerintah mengklaim sudah mengerahkan segalanya  dalam upaya penanggulangan bencana itu. 

Baca Juga: Habib Rizieq Teriak Lantang Desak Prabowo Bubarkan Ormas yang Bikin Rusuh Demo 27 Agustus: Giliran Menangkap Kiai Cepat, Sama Preman Takut!

Parahnya lagi kondisi bencana itu memburuk sesaat setelah kunjungan Prabowo. Korban gempa Flores menanjak setelah presiden meninggalkan pulau itu, begitu juga Kalimantan, kebakaran hutan justru semakin mengerikan setelah Prabowo pergi. 

"Setelah Prabowo meninggalkan NTT, jumlah korban tewas akibat gempa bumi bertambah. Setelah dia meninggalkan Kalimantan, kebakaran hutan makin ganas," kata Gigin Praginanto dikutip dari unggahan di media sosialnya dilansir Selasa (1/9/2026). 

Khusus pada kasus karhutla, Gigin Praginanto menyinggung sikap Presiden Prabowo yang tidak menyinggung  peran para pengusaha yang menjadi pemilik konsesi di wilayah kebakaran tersebut. Kondisi itu bagi dia menjadi pertanyaan besar bahkan dicurigai sebagai bentuk lepas tanggung jawab.

"Prabowo tak sekalipun menyebut peran para pemilik konsesi dalam kebakaran besar hutan di Kalimantan dan Sumatera. Bahwa sebagian besar titik api berada dalam kawasan konsesi atau mau lari dari tanggung jawab?," katanya.

Selain itu, Gigin Praginanto menyoroti sikap pemerintah yang terkesan tidak memiliki solusi permanen dalam mengatasi atau mencegah kebakaran hutan lebih meluas. Misalnya kata dia, pemerintah seharusnya punya pemikiran untuk membeli pesawat pemadam kebakaran hutan, seperti yang dimiliki sejumlah negara di dunia.

Solusi itu tentu saja bukan tanpa alasan. Betapa tidak, kasus karhutla di Indonesia nyaris setiap tahun terjadi pada musim kemarau. Karena itu, kehadiran pesawat pemadam kebakaran dinilai sangat penting, sehingga pemerintah memiliki infrastruktur memadai dalam memadamkan api saat kebakaran terjadi.

Sayangnya, meski Presiden Prabowo sudah meninjau langsung kebakaran hutan di Kalimantan, pemerintah tidak sekalipun menyinggung kemungkinan untuk membeli pesawat pemadam kebakaran. 

"Prabowo tak berencana membeli pesawat pemadam kebakaran hutan. Dia memilih pembangunan sumur bor dan motor trail. Apakah karena takut api padam terlalu cepat sehingga lahannya tidak bisa ditanami sawit?," kata Gigin Praginanto.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto lebih banyak menaruh perhatian terkait solusi pemadaman kebakaran menggunakan tepung singkong, setelah mendapat laporan Kapolri, Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang memaparkan kegunaan tepung singkong tersebut dalam memadamkan api.

Begitu mendengar apa yang disampaikan kapolri itu, presiden bahkan langsung menginstruksikan agar inovasi tersebut dilakukan uji coba lebih lanjut. Sikap itu mengindikasikan besarnya perhatian Prabowo terkait potensi tepung jadi alat pemadam kebakaran di Indonesia. 

Baca Juga: Kerusuhan Demo 27 Agustus, Habib Rizieq Tantang Prabowo Bubarkan Ormas Preman: Tangkap Kiai Cepat, Sama Preman Takut!

Selain itu, dia juga menyinggung soal sorotan publik terhadap Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni belakangan ini. Salah satunya suara agar kader PSI tersebut dipecat mengingat kasus kebakaran hutan tidak bisa ditangani dengan baik.

"Banyak tuntutan agar Menteri Kehutanan dipecat. Saya tidak setuju kalau cuma dia. Memang bosnya siapa? Bos sawit?" tandasnya.