Growthmates, penggunaan istilah healing semakin populer di media sosial, terutama di kalangan generasi muda. Istilah tersebut kerap digunakan untuk menggambarkan berbagai aktivitas yang dianggap dapat membantu seseorang merasa lebih tenang atau memulihkan kondisi emosional.
Namun, penggunaan istilah healing di masyarakat dinilai telah mengalami pergeseran makna. Founder Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, mengatakan terdapat salah kaprah dalam penggunaan istilah tersebut.
Menurut dr. Ray, healing seharusnya lebih tepat digunakan dalam konteks penanganan atau pemulihan masalah kesehatan mental yang dilakukan setelah seseorang mendapatkan diagnosis berdasarkan kondisi yang objektif. Dengan demikian, proses tersebut tidak seharusnya dimulai dari asumsi atau self-diagnosis.
"Healing, healing ini juga salah satu keyword yang paling lama ditemukan di media sosial. Saya sendiri, secara personal, saya tidak akan menghakimi healing. Tapi pasti tidak populer, kenapa? Karena healing itu sudah pada fase treatment," tutur dr. Ray. di Jakarta, belum lama ini.
dr. Ray memaparkan, treatment merupakan tahap penanganan yang semestinya dilakukan setelah seseorang mendapatkan diagnosis. Karena itu, efektivitas proses healing dapat menjadi persoalan apabila diagnosis awal justru dilakukan sendiri tanpa melalui pemeriksaan yang tepat.
"Treatment itu adalah setelah you've been diagnosed. Bagaimana healing itu akan efektif ketika diagnosis kita lakukan self-diagnosing. Soal diagnosis yang tidak kurang," jelasnya.
Menurut dr. Ray, pergeseran makna tersebut membuat narasi healing di media sosial justru sering dikaitkan dengan berbagai aktivitas yang sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai cara seseorang menghadapi tekanan atau stres.
"Jadinya adalah narasi healing kebalik. Narasi healing itu lakuan baju. Narasi healing adalah beli maca. Narasi healing adalah nonton atau binge-watch show. Sekarang bukan drama hore lagi. Narasi healing," katanya.
Ia menilai, menjadikan aktivitas tertentu sebagai bentuk healing tanpa memahami kondisi kesehatan mental yang mendasarinya dapat membuat masyarakat melewatkan tahapan penting dalam menjaga kesehatan mental.
"Jadi ketika kita menggunakan pendekatan healing sebagai bagian dari mitigasi jatuhan mental kita, itu sudah salah satu hal terakhir," tutur dr. Ray.
Alih-alih langsung menggunakan istilah healing, dr. Ray mendorong masyarakat untuk terlebih dahulu mengenali dan membangun coping mechanism, yakni cara yang sesuai bagi setiap individu untuk menghadapi tekanan atau masalah yang dihadapi.
"Pokoknya, mungkin kita ajak teman-teman, kalau belum kita bikin campaign. Campaign say no to healing. Say yes to coping mechanism," ujarnya.