3. Anda Terlalu Nyaman

Pekerjaan terasa begitu mudah hingga bisa dilakukan tanpa berpikir. Tantangan nyaris tidak ada. Hari-hari berlalu tanpa ketegangan intelektual atau emosional.

Ini jebakan umum, mengira kenyamanan sebagai tanda penguasaan. Bisa jadi Anda memang sudah ahli tetapi di level yang terlalu rendah untuk potensi Anda.

Ketidakhadiran tantangan adalah sinyal bahaya. Pertumbuhan selalu berada di zona peregangan, bukan zona aman.

Jadi, mulailah cari proyek yang sedikit menakutkan. Ambil tanggung jawab yang berisiko gagal.

Pilih jalur yang menuntut versi diri Anda yang lebih kuat. Jika Anda tidak pernah merasa kewalahan, Anda belum bermain di level yang cukup tinggi.

4. Perhatian Anda Mudah Direbut

Anda mengangkat panggilan pribadi saat bekerja. Notifikasi terus menyala. Fokus Anda terpecah setiap beberapa menit.

Para pekerja berkinerja tinggi kerap menjaga perhatian mereka seperti aset berharga. Ponsel dimatikan. Mode 'jangan ganggu' aktif.

Anda harus mengetahui bahwa fokus penuh adalah standar, bukan pengecualian. Perhatian adalah mata uang pencapaian, dan setiap gangguan kecil mencuri momentum besar.

Jadi, mulailah menetapkan batasan. Tentukan jam fokus tanpa interupsi. Jadwalkan waktu khusus untuk membalas pesan dan panggilan.

Ajarkan lingkungan Anda bahwa Anda tidak selalu tersedia dan perhatikan bagaimana produktivitas Anda melonjak.

5. Anda Tidak Bisa Menyebutkan Kemenangan Besar Terakhir

Saat ditanya tentang pencapaian terbaru, Anda ragu. Tidak ada tonggak jelas. Tidak ada lompatan signifikan. Yang ada hanya ‘bertahan’.

Ini sering terjadi ketika standar diturunkan agar sesuai dengan hasil, bukan sebaliknya. Orang berkinerja tinggi selalu tahu angka mereka, kemajuan mereka, dan kemenangan penting mereka.

Jadi, mulailah mencatat kemenangan, sekecil apa pun. Buat satu dokumen sederhana berisi pencapaian, klien baru, keputusan penting, atau target yang tercapai.

Selain itu, tinjau setiap minggu. Ingat, visibilitas menciptakan akuntabilitas, dan akuntabilitas menciptakan hasil.

Baca Juga: Kerja Tanpa Burnout, Inilah 5 Negara dengan Work–Life Balance Terbaik