Growthmates, apakah Anda pernah pulang kerja dengan tubuh lelah dan pikiran penuh, lalu bertanya-tanya 'apakah pekerjaan saya termasuk yang paling membuat stres?'.

Jika iya, Anda tidak sendirian. Sebuah analisis terbaru dari Welltory, aplikasi manajemen stres dan energi, mencoba menjawab pertanyaan tersebut dan hasilnya cukup mengejutkan.

Melalui studi berskala besar, Welltory memetakan sembilan sektor pekerjaan dengan tingkat stres tertinggi di tahun 2026, berdasarkan data yang dikumpulkan dari seluruh Amerika Serikat. 

Studi ini menegaskan bahwa stres dan kelelahan bukan lagi isu individual, melainkan persoalan struktural di dunia kerja modern.

Mengapa Studi Ini Penting?

Stres dan burnout kini menjadi percakapan sehari-hari di banyak tempat kerja. Namun, alih-alih mengandalkan asumsi, Welltory memilih pendekatan berbasis data untuk mengetahui industri mana yang benar-benar menanggung beban emosional dan fisik paling berat.

Penelitian ini mengolah data dari 16 juta pengguna di seluruh dunia, sebagaimana dibagikan oleh Welltory melalui LinkedIn dan dilaporkan oleh Forbes.

Fokus analisis diarahkan pada kondisi kerja nyata yang dialami para profesional, bukan sekadar persepsi subjektif.

Bagaimana Studi Ini Dilakukan?

Menurut laporan Forbes, tim riset Welltory menganalisis data sepanjang tahun 2025 dan mengevaluasi berbagai industri utama di Amerika Serikat.

Untuk memastikan perbandingan yang adil, para peneliti menggunakan metode normalisasi min–max, yakni teknik statistik yang menyetarakan berbagai jenis data ke dalam skala 1 hingga 100.

Setiap industri kemudian dinilai berdasarkan tujuh faktor utama pemicu stres di tempat kerja, yaitu:

  1. Rata-rata jam kerja mingguan: Jam kerja yang panjang sering kali berarti tekanan kerja tinggi dan minim waktu pemulihan.
  2. Tingkat lowongan pekerjaan: Tingginya lowongan menandakan kekurangan tenaga kerja dan beban berlebih bagi karyawan yang ada.
  3. Tingkat cedera dan penyakit akibat kerja: Risiko fisik yang tinggi berbanding lurus dengan tingkat stres.
  4. Rata-rata pendapatan mingguan: Pendapatan yang rendah dapat meningkatkan tekanan finansial, terutama pada pekerjaan yang menuntut.
  5. Tingkat PHK dan pemecatan: Ketidakamanan kerja merupakan salah satu pemicu utama stres kronis.
  6. Tingkat pengunduran diri karyawan: Tingginya resign sering mencerminkan kelelahan dan rendahnya moral kerja.
  7. Tingkat burnout pekerja: Indikator utama stres yang mencakup kelelahan mental, fisik, dan hilangnya motivasi.

Baca Juga: 10 Negara dengan Upah Minimum Tertinggi di Dunia 2025