Isu pengelolaan sampah organik masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Di tengah dorongan menuju ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan, inovasi sederhana seperti eco-enzyme mulai dilirik sebagai solusi berbasis masyarakat yang memiliki nilai ekologis sekaligus ekonomis.

Eco-enzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga seperti kulit buah dan sayuran dengan tambahan gula alami dan air dalam wadah tertutup selama kurang lebih 90 hari. Proses ini menghasilkan cairan berwarna cokelat jingga dengan aroma asam segar.

“Kami berharap ke depan eco enzyme ini bisa terus digaungkan dan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yang bermanfaat bagi Indonesia,” ujar Bambang Patijaya, Ketua Komisi XII DPR RI yang dimuat di https://jdih.dpr.go.id, kamis (15/01/26)

Dari Sampah Menjadi Produk Multifungsi

Secara fungsional, eco-enzyme memiliki berbagai aplikasi:

  • Rumah tangga: sebagai pembersih alami lantai, dapur, kamar mandi, serta penghilang bau saluran air dan tempat sampah.
  • Pertanian: pupuk cair organik dan pestisida nabati ramah lingkungan.
  • Pengolahan limbah cair skala kecil: membantu mengurangi bau dan mempercepat proses biologis penguraian bahan organik.

Proses Produksi yang Sederhana namun Bernilai 

Proses pembuatan eco-enzyme relatif mudah. Limbah organik dipotong kecil-kecil lalu dicampur dengan gula alami (molase atau gula merah) dan air dengan perbandingan 3:1:10. Campuran difermentasi selama 90 hari dalam wadah tertutup yang hanya diisi 60–70% untuk memberi ruang gas hasil fermentasi.

Indikator keberhasilan fermentasi ditandai dengan aroma alkohol pada bulan pertama dan aroma asam segar pada bulan berikutnya, dengan standar pH sekitar 4. Jika tercium bau busuk atau muncul jamur dan belatung, itu berarti proses fermentasi tidak berjalan dengan baik.

Meski sederhana, proses ini mencerminkan prinsip dasar industri bioteknologi skala rumah tangga: pemanfaatan mikroorganisme untuk menghasilkan produk bernilai tambah.