Generasi Alpha dikenal sebagai generasi yang tumbuh di tengah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Sejak kecil, mereka sudah terbiasa dengan perangkat digital, akses informasi yang luas, serta berbagai bentuk stimulasi yang membuat kemampuan mereka berkembang dalam banyak bidang.

Psikolog Anak dan Keluarga, Samanta Elsener, M.Psi., Psikolog, mengatakan bahwa karakter Generasi Alpha terlihat dari kemampuan mereka yang sangat adaptif terhadap teknologi. Tidak sedikit anak-anak dari generasi ini yang mampu menorehkan prestasi di berbagai kompetisi, mulai dari matematika, sains, hingga bidang lain seperti debat dan kreativitas.

“Generasi Alpha itu tech-savvy banget ya. Jadi mereka memang sangat-sangat jago. Banyak banget juga yang menang olimpiade, lomba-lomba setaraf olimpiade,” ungkap Samanta, sebagaimana Olenka kutip dari Instagram @theauthorityid, Rabu (24/6/2026).

Menurut Samanta, tingginya paparan informasi dan stimulasi sejak dini membuat Generasi Alpha memiliki ruang belajar yang jauh lebih luas dibandingkan generasi sebelumnya.

“Matematika, sains itu makin beragam banget. Mau itu debat atau apa, semakin variasi. Jadi anak-anak Alpha ini kondisinya jauh lebih tersimulasi sebenarnya,” jelasnya.

Namun, di balik kemampuan tersebut, kata Samanta, Generasi Alpha juga memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait tekanan dan kondisi emosional.

Samanta menyebut, salah satu hal penting bagi anak-anak generasi ini adalah bagaimana mereka membangun keyakinan bahwa diri mereka sudah cukup baik.

“Persoalannya adalah bagaimana mereka bisa merasa bahwa mereka enough,” katanya.

Samanta juga menilai ,Generasi Alpha memiliki tingkat sensitivitas yang lebih tinggi dibandingkan Generasi Z.

Baca Juga: Psikolog Ungkap Tantangan AI Bagi Gen Alpha dan Beta