Dosen Lintas Budaya Ali Syarief mengkritik keras wacana pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon presiden pada Pilpres 2029 mendatang. Baginya Gibran sangat tidak layak sebagai capres.
Ketimbang ngotot mendorong Gibran nyapres, para pendukungnya disarankan mencari figur yang jauh lebih kompeten. Menurut Ali di Indonesia ini banyak sekali tokoh jebolan universitas ternama yang sangat layak memimpin bangsa ini ketimbang Gibran. Ali mengatakan para pendukung Gibran seharusnya malu mencalonkan Gibran yang kredibilitasnya sama sekali belum teruji.
Baca Juga: Gibran Disebut Calon Presiden Terkuat Setelah Prabowo
‘Masa sich masih ngotot, ingin MenCapreskan Gibran; Apa nggak malu punya banyak jebolan orang-orang hebat dari kampus-kampus keren? Ada banyak alumnus ITB, UI, UGM dan tidak sedikit pula lulusan luar. Sorry bukan UTS (Insearch Sydney, Australia, tempat Gibran menuntaskan studinya),” kata Ali dilansir Olenka.id Jumat (18/9/2026).
Ali menegaskan, Gibran sama sekali tidak bisa dipercaya mengurus negara ini, sebab tokoh sekaliber Prabowo Subianto yang punya pengalaman mumpuni di dunia politik saja masih keteteran menjadi Kepala Negara. Gibran kata dia tak punya kemampuan mengurus bangsa ini.
“Semodel Prabowo saja, masih keteteran menjadi Presiden,” ujarnya.
Gibran belakangan memang sedang didera sejumlah masalah salah satunya adalah soal ijazah SMA miliknya yang dipakai sebagai syarat pendaftaran cawapres pada Pilpres 2024 lalu. Pihak yang menyoal dokumen ini adalah Pakar hukum tata negara Denny Indrayana.
Ia bahkan membuat sayembara mencari ijazah Gibran dengan imbalan hadiah miliaran rupiah, namun hingga sayembara itu ditutup tak ada satu orang pun yang mampu menunjukan ijazah Gibran.
Kekinian ia melayangkan Gugatan ke Mahkamah Konstitusi yang salah satu tuntutannya adalah membatalkan pelantikan Gibran sebagai capres karena proses pendaftarannya cacat prosedural.
Denny mengungkapkan bahwa pihak UTS Insearch Sydney, Australia, tempat Gibran menempuh pendidikan, telah mengonfirmasi permintaan resminya.
Permintaan tersebut terkait informasi pendidikan Gibran periode 2004–2007, mencakup data pendaftaran, program studi, kelulusan, hingga nilai. Denny menyebut permohonan itu kembali diajukan pada 9 September 2026, bertepatan dengan penutupan sayembara ijazah SMA/sederajat Gibran.
"Tanggal 9 September lalu, saya mengajukan lagi permintaan informasi terkait sekolah Gibran di UTS Inserach, Sydney, Australia. Permintaan resmi saya daftarkan online, dan dikonfirmasi UTS melalui potongan email di atas," tulisnya di akun X pribadinya, dikutip Selasa (15/9/2026).
Ia menegaskan ingin memperoleh seluruh data pendidikan Gibran di sana.
"Saya meminta seluruh data sekolah Gibran di sana. Kapan masuknya? Program apa? Apakah selesai? Kapan lulusnya? Bagaimana nilainya? Dst," imbuhnya.
Denny menyatakan siap menggugat melalui kantor hukumnya di Australia jika data tidak diberikan. Ia akan mengandalkan izin praktik solicitor yang dimilikinya di negara tersebut.
"Kalau tidak diberikan juga, saya mempertimbangkan menggugat Keterbukaan Informasi Publik melalui kantor hukum saya INTEGRITY Lawyers yang punya cabang di Sydney, Australia.," tegasnya.
"Karena saya sendiri punya izin praktik hukum (Solicitor) di Australia, selain advokat di Indonesia," lanjutnya.