Selat Hormuz menjadi salah satu titik nadi perekonomian global. Hormuz menjadi jalur distribusi energi paling vital di dunia. Blokade jalur tersebut gara-gara perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel membuat ekonomi global terseok lantaran harga minyak langsung melejit.

Kendati Selat Hormuz punya peran sepenting itu, tetapi bagi Indonesia jalur tersebut tak punya banyak pengaruh. Dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya, Indonesia tak terlampau bergantung pada Selat Hormuz.

Baca Juga: Kapal Pertamina Belum Bisa Menembus Selat Hormuz

Dalam pertemuan ASEAN Zero Emission Commission (AZEC) yang diikuti sekitar 12 negara dan dipimpin Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlangga Hartarto mengatakan presentase ketergantungan Indonesia pada Selat Hormuz relatif kecil yakni sekitar 20 persen saja.

 “Perdana Menteri Sanae Takaichi ini mengatakan 70 persen negara Asia saat ini sangat tergantung kepada Middle East, kepada Selat Hormuz. Namun Indonesia tidak, jadi Indonesia hanya bergantung sekitar 20 persen," ujar Airlangga dalam agenda Kick Off PINISI di Gedung Bank Indonesia, Senin (27/4/2026).

Rendahnya ketergantungan Inonesia pada Selat Hormuz terkonfirmasi dari kondisi ekonomi dan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sekarang ini. Di mana Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia yang bisa mempertahankan tabilitas harga BBM saat harga BBM di belahan negara lain melejit.

Baca Juga: CEO Martha Tilaar Group Bicara Dampak Penutupan Selat Hormuz ke Industri dalam Negeri

Airlangga memastikan, Indonesia menjadi negara yang paling tidak terdampak pada penutupan Selat Hormuz. Indonesia relatif lebih tahan terhadap gejolak global, khususnya yang berkaitan dengan gangguan distribusi energi.