Penutupan Selat Hormuz imbas perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel tak hanya berdampak pada distribusi minyak mentah yang membuat harga Bahan Bakar Minyak (BBM) melambung. Penutupan kawasan yang dilakukan otoritas Iran itu juga mengganggu iklim industri dalam negeri.
Banyak industri dalam negeri turut terpukul karena penutupan kawasan perairan tersebut lantaran sebagian besar bahan baku masih bergantung pada impor. Bahan baku dan barang-barang yang dikirim dari luar negeri kerap molor tiba di Indonesia.
Kondisi ini telah dikonfirmasi oleh CEO Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar yang mengakui pihaknya juga turut terdampak dengan gejolak Timur Tengah tersebut. Dia mengatakan, molor bahan baku yang tiba di Tanah Air memicu kenaikan harga yang signifikan karena terjadi kelangkaan barang.
Baca Juga: Sri Lanka hingga Malaysia Sudah Diizinkan Lewat Selat Hormuz, Bagaimana Nasib Indonesia?
“Nah terus kemudian supply, jadi selat hormuz itu kalau misalnya kita lihat tuh jalur perdagangan Eropa ke Asia. Nah kita bisa melihat bahwa bahan baku kita banyak dari Eropa kan, dari Perancis gitu, parfumnya kan dari Perancis. Nah itu terlambat gitu. Masuknya, jadi delay, jadi bukan hanya akan lebih mahal, tapi juga barangnya ada atau enggak gitu,” kata Kilala Tilaar dilansir Kamis (9/4/2026).
Kilala mengakui Martha Tilaar Group sejauh ini masih sangat bergantung pada impor, 75 persen barang mentah didatangkan dari luar negeri. Salah satu anak usaha Martha Tilaar Group yang turut terguncang karena penutupan Hormuz perusahaan produsen plastik milik grup bisnis ini. Aktivitas produksi perusahaan itu bahkan nyaris terhenti dalam beberapa hari kerja karena ketiadaan barang mentah.
“Nah saya punya pabrik plastik, karena Martha Tilaar Group juga punya pabrik plastik untuk packaging. Itu sempat nggak ada barang, nggak ada barang plastik, nggak ada yang mau jual, karena harganya sangat tinggi gitu. Nah itu luar biasa sih,” ujarnya.
Penutupan Selat Hormuz lanjut Kilala sama parahnya seperti Covid-19 yang mengguncang dunia beberapa tahun lalu. Untuk itu kata dia para pengusaha mesti mengupayakan pengadaan bahan baku secara mandiri untuk menghadapi situasi global yang kian tak menentu belakangan ini. Apabila terus-terusan bergantung pada impor, kondisi industri Indonesia bisa jauh lebih parah jika perang tiga negara itu terus berlanjut dan melebar ke negara lain.
“Makanya kita harus benar-benar sekarang kejar nih supaya kita bisa mandiri lah, at least kita bisa di 50% lah tergantungan importnya gitu. Tapi kalau gue udah barangnya naik berarti inflasi, terus daya belinya turun. Itu ngeri banget, itu ngeri banget. Mau dijualin berapa sih gitu, mau jual rupiah kan nggak mungkin ya,” pungkasnya.
Perlu diketahui otoritas Iran menutup Selat Hormuz setelah negara itu diserang AS dan Israel pada Februari 2026 lalu, Iran sempat beberapa kali membuka kawasan itu namu kembali memblokadenya dengan berbagai alasan.
Baca Juga: Trump Sebut AS Tak Butuh Selat Hormuz
Kekinian Iran dan Amerika telah menyepakati gencatan senjata selama dua minggu dan Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran internasional, namun tentu saja pembukaan blokade kawasan tersebut bakal disertai berbagai peraturan ketat.