Ketua Bidang Kampanye Positif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Edi Suhardi mengatakan Kelapa Sawit menjadi salah satu komoditas pertanian dan perkebunan yang paling banyak berkontribusi pada petani dan masyarakat.

Perkebunan Sawit yang terus menggeliat tak sekadar menyediakan lapangan kerja baru. Industri ini juga turut berkontribusi pada pemberdayaan petani lokal untuk mengembangkan atau mengkultivasi lahan-lahan mereka menjadi kebun sawit yang memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas lain.

Baca Juga: Cokelat Berbasis Sawit, Inovasi Rasa Premium dari Tangan Dokter Irdawati Novita

Sebagai catatan, total lahan sawit di Indonesia sekarang ini sudah mencapai 16,8 juta hektare. Dari total luas lahan itu sekitar 52 persen dikelola perusahaan swasta nasional dan 10 persen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menyerap banyak tenaga kerja.  

Sementara sisanya adalah lahan petani pekebun, baik yang berasosiasi dengan perusahaan maupun petani sawit independen.

“Kebun sawit ini selain produktivitas tinggi dengan harga yang bagus juga memberikan kesejahteraan yang luar biasa, dan tidak hanya bagi individu petani sawit atau pekebun sawit, tapi juga bagi masyarakat yang berada sekitar perkebunan sawit serta industri-industri sawit,” kata Edi kepada Olenka.id ditulis Kamis (16/4/2026).

Tak hanya itu, perkebunan sawit juga turut mendorong pembangunan kawasan terpencil. Perkebunan Sawit mayoritas di garap di daerah pedalaman. Kondisi ini membuat perusahaan mau tak mau harus membangun infrastruktur sebagai akses masuk. Ini adalah investasi awal yang juga sangat membutuhkan peran masyarakat lokal. 

“Selain itu, karena sawit ini juga merupakan industri yang padat karya, diperlukan, apa namanya, karyawan yang besar, yang banyak, harus dibangun fasilitas, baik itu fasilitas sosialnya, sosial kemasyarakatan, maupun kesehatan dan lain sebagainya,” ujarnya.

Pengembangan industri sawit tidak bisa berdiri sendiri, ruang lingkupnya luas dan menyasar banyak sektor. Pengembangan industri sawit selalu beriringan dengan pengembangan satu kawasan terutama pembukaan permukiman baru.

“Perusahaan sawit akan memprioritaskan masyarakat lokal, karena itu lebih ekonomis dan juga lebih aman untuk pengamanan sosial,” ujar Edi.

Baca Juga: Komitmen Dosen IPB: Riset Limbah Sawit untuk Lingkungan dan Bukti Nyata Manfaatnya

“Sehingga kalau kita bicara pembangunan sawit, tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga infrastruktur sosial, dan jadi masyarakat pun memperoleh peluang yang baik untuk memperoleh, apa namanya, untuk dapat terlibat dalam pembangunan sawit,” pungkasnya