SCG mencatatkan EBITDA Penyesuaian (arus kas dari operasional inti, di luar pos luar biasa) sebesar Rp28,872 triliun pada 2025, meningkat 6% dibandingkan tahun 2024. Perusahaan juga berhasil memangkas beban utang sebesar Rp7,791 triliun dari tahun sebelumnya.
Thammasak Sethaudom, Chief Executive Officer (CEO) SCG, menyampaikan bahwa pada tahun 2025, SCG menghadapi berbagai tantangan mulai dari perlambatan ekonomi global, konflik geopolitik, hingga fluktuasi biaya energi yang berdampak pada seluruh industri, terutama sektor petrokimia. Meski begitu, SCG berhasil mencatatkan EBITDA Penyesuaian (arus kas dari operasional inti, tidak termasuk pos luar biasa) yang ebih kuat dibandingkan tahun 2024.
Baca Juga: Laba Bersih Tumbuh 14 Persen, Danamon Bukukan Rp4 Triliun Sepanjang 2025
"Hasil ini mencerminkan disiplin keuangan perusahaan yang ketat, manajemen biaya yang efisien, restrukturisasi operasional, penghentian bisnis yang tidak berperforma, serta langkah penghematan biaya yang mencapai lebih dari Rp2,256 triliun per tahun, di samping upaya akselerasi peningkatan kapabilitas di seluruh lini bisnis. SCG juga terus berkomitmen untuk memberikan imbal hasil yang berkelanjutan bagi para pemegang saham," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, dikutip Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, keberhasilan dari berbagai langkah penguatan disiplin keuangan yang diterapkan sepanjang tahun 2025 meliputi:
- Penurunan modal kerja sebesar Rp5,529 triliun;
- Restrukturisasi operasional melalui penghentian bisnis yang tidak berperforma serta langkah penghematan biaya dengan total mencapai lebih dari Rp2,256 triliun per tahun; dan
- Pengendalian belanja modal (CAPEX) dengan memprioritaskan proyek yang memberikan imbal hasil tinggi dan cepat, yang terealisasi sesuai rencana sebesar Rp16,132 triliun.
"Rangkaian langkah strategis ini secara kolektif menghasilkan penurunan utang bersih sebesar Rp7,791 triliun dengan rasio utang bersih terhadap EBITDA yang membaik menjadi 5,5 kali dari sebelumnya 6,3 kali. Perusahaan tetap menjaga stabilitas finansial yang kokoh dengan cadangan kas mencapai Rp27,526 triliun pada akhir tahun," jelas Thammasak Sethaudom.
Menatap 2026
SCG menilai bahwa meskipun kondisi ekonomi global dan Thailand masih melambat. Bisnis petrokimia diperkirakan akan tetap stabil, didukung oleh melambatnya penambahan kapasitas produksi global baru serta tren penurunan harga bahan baku.
Pada lini bisnis Cement and Green Solutions, Smart Living, dan Distribution and Retail, SCG fokus memperkuat efisiensi biaya melalui pemanfaatan energi terbarukan dan integrasi AI di seluruh lini produksi. Langkah ini dibarengi dengan akselerasi inovasi hijau, seperti pengembangan Low Carbon Cement Generation 4 dan Ultra-High Performance Concrete (UHPC).
Di Indonesia, SCG akan terus membawa inovasi hijau melalui teknologi ramah lingkungan serta produk bangunan rendah karbon (low carbon product). Dalam industri semen, perusahaan akan mendorong produk Low-Carbon Cement yang telah dikembangkan melalui proses R&D (Research & Development) ekstensif untuk menghadirkan produk semen hijau (green cement) berkualitas tinggi. Di saat yang sama, SCG Decor mengoptimalkan operasionalnya melalui peningkatan penggunaan biomassa dan ekspansi kapasitas produksi di Vietnam untuk menangkap peluang pertumbuhan infrastruktur regional.
Di industri kimia, SCGC berkomitmen meningkatkan ketangguhan bisnis dengan mengoptimalkan operasional Long Son Petrochemicals (LSP) dan menargetkan porsi produk bernilai tambah tinggi (HVA) hingga di atas 60%. Melalui pengembangan Green Polymers dan penguatan fleksibilitas bahan baku lewat proyek etana, SCGC berupaya memitigasi volatilitas industri sekaligus memberikan solusi kimia yang lebih kompetitif bagi pelanggan global.
Sementara itu, SCGP (Packaging) terus memacu pertumbuhan melalui strategi merger dan kemitraan (M&P) serta ekspansi pasar di Indonesia, Vietnam, dan India. Dengan mengintegrasikan teknologi robotik dan automasi, SCGP meningkatkan efisiensi produksi kemasan konsumen secara ujung-ke-ujung (end-to-end). Fokus utama tetap pada pengembangan inovasi kemasan ramah lingkungan yang membantu pelanggan mencapai target pengurangan emisi mereka secara efektif.
Melalui SCG Cleanergy, SCG akan mempercepat transisi energi bersih melalui optimalisasi proyek energi terbarukan dan pemanfaatan platform Smart Grid. Dengan dukungan Generative AI untuk prakiraan energi yang lebih akurat, Cleanergy siap memperkuat infrastruktur energi bersih masa depan. Inovasi seperti solusi Heat Battery terus dikembangkan untuk menyediakan energi rendah biaya yang responsif terhadap kebutuhan sektor industri.
“Meskipun tahun 2026 masih akan menghadirkan tantangan dari kondisi ekonomi global maupun Thailand, SCG akan terus melangkah maju untuk memperkokoh posisi keuangan, meningkatkan daya saing di seluruh lini bisnis, serta tetap sigap dalam mengatasi setiap tantangan dan aktif mencari peluang pertumbuhan baru. Kami optimis bahwa SCG berada dalam kondisi yang semakin intens, semakin kuat, semakin kokoh, dan semakin tangguh,” tutup Thammasak.