Nama Muhammad Chatib Basri kembali menjadi sorotan publik setelah dipanggil Presiden Prabowo Subianto ke Istana Kepresidenan, Jakarta, bersama sejumlah tokoh ekonomi pada Selasa (9/6/2026). Kehadiran mantan Menteri Keuangan tersebut memunculkan berbagai spekulasi dan diskusi mengenai arah kebijakan ekonomi pemerintah ke depan.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi terkait penugasan baru bagi Chatib Basri. Di luar berbagai spekulasi yang berkembang, ekonom senior tersebut dikenal memiliki rekam jejak panjang di bidang akademik, investasi, hingga pengelolaan kebijakan fiskal negara.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimis Rupiah Menguat Mulai Juli, Bergerak Stabil di Rp16.800 pada Tahun 2027
Sebagai salah satu ekonom berpengaruh di Indonesia, Chatib Basri memiliki pengalaman yang mencakup dunia akademik, pemerintahan, hingga berbagai lembaga internasional. Pengalamannya tersebut membuat pandangannya kerap menjadi rujukan dalam berbagai isu ekonomi nasional.
Lahir di Jakarta pada 22 Agustus 1965, pria yang akrab disapa Dede ini menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dan lulus pada 1992. Ketertarikannya pada bidang makroekonomi dan kebijakan publik kemudian membawanya melanjutkan studi ke Australia.
Ia meraih gelar Master of Economic Development pada 1996 dan gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) di bidang ekonomi pada 2001 dari Australian National University (ANU). Pendidikan tersebut menjadi fondasi kuat bagi kiprahnya di bidang ekonomi dan kebijakan publik.
Baca Juga: Chatib Basri: Tugas Menkeu Sangat Gampang
Sekembalinya ke Indonesia, Chatib aktif sebagai pengajar dan peneliti di FEB UI. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI, salah satu lembaga riset ekonomi terkemuka di Indonesia.
Kariernya di pemerintahan dimulai ketika dipercaya menjadi Penasihat Khusus Menteri Keuangan pada periode 2006–2010. Pada periode yang sama, ia juga berperan sebagai Sherpa Indonesia untuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 pada 2008–2012, yang bertugas menyiapkan berbagai substansi kebijakan ekonomi Indonesia di forum internasional tersebut.
Pada 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Chatib Basri sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Saat memimpin BKPM, ia mendorong berbagai upaya penyederhanaan perizinan guna meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia.
Baca Juga: Chatib Basri Ungkap Dampak Luar Biasa Jika Danantara Dikelola dengan Baik
Kariernya mencapai puncak ketika dilantik sebagai Menteri Keuangan pada Mei 2013. Saat itu, Indonesia menghadapi tekanan ekonomi akibat fenomena taper tantrum, yaitu gejolak pasar yang dipicu oleh kebijakan pengetatan moneter Amerika Serikat dan berdampak pada arus modal keluar dari berbagai negara berkembang.
Sebagai Menteri Keuangan, Chatib Basri terlibat dalam berbagai kebijakan fiskal untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional, termasuk pengelolaan anggaran negara dan reformasi subsidi energi. Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Setelah menyelesaikan masa jabatannya pada 2014, Chatib tetap aktif di berbagai forum ekonomi nasional maupun internasional. Ia juga dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis di berbagai perusahaan dan lembaga yang bergerak di sektor keuangan, investasi, serta telekomunikasi.
Baca Juga: Chatib Basri Beber Cara Menyelamatakan Kelas Menengah dari Jurang Kemiskinan
Pengalamannya di bidang ekonomi turut diakui oleh berbagai lembaga internasional. Ia pernah menjadi anggota High-Level Advisory Group untuk Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang membahas isu pemulihan ekonomi berkelanjutan.
Saat ini, Chatib Basri menjabat sebagai Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Bersama sejumlah ekonom dan tokoh nasional lainnya, ia berperan memberikan masukan strategis terkait kebijakan ekonomi jangka menengah dan panjang.