Presiden Prabowo Subianto dikritik habis-habisan setelah menyebut jurnalis, pengamat hingga LSM adalah londo ireng. Istilah era kolonial untuk menyebut warga pribumi yang berkhianat dan membelot ke Belanda.
Pernyataan yang disampaikan dalam sambutannya di cara Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di JCC, Jakarta, Kamis (23/7/2026) pekan lalu itu langsung berpolemik. Di media sosial Prabowo dikritik habis-habisan bahkan ia dituding menjadi bagian dari londo ireng itu sendiri.
Baca Juga: Pak Prabowo Seperti Orang Nggak Sadar, Dia Sedang Bikin Negara di Dalam Negara!
Merespons polemik yang terjadi, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) meminta publik melihat secara utuh pernyataan kepala negara.
Ketimbang memperdebatkan masalah istilah londo ireng yang dapat mengalihkan perhatian dari substansi persoalan, publik diminta menengok cara pemerintah merespons kritik masyarakat. Dimana diklaim pemerintah menjawab seluruh kritik itu dengan berbagai capaian baru. Misalnya saja soal kritik sarana pendidikan yang rusak, pemerintah langsung bergerak cepat melakukan upaya perbaikan.
"Presiden memandang kritik, termasuk pemberitaan mengenai sekolah yang mengalami kerusakan, sebagai masukan yang penting untuk diungkap. Berbagai temuan di lapangan menjadi perhatian pemerintah dan ditindaklanjuti melalui langkah-langkah perbaikan," ujar Direktur Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kementerian Komunikasi dan Digital, Fifi Aleyda Yahya Selasa (28/6/2026).
Mantan jurnalis televisi itu mengatakan, respon cepat pemerintah atas berbagai kritik masyarakat adalah bukti bahwa ketika kritik itu disampaikan dengan itikad dan tujuan yang baik, maka semuanya bakal didengar dan langsung ditindaklanjuti, jadi jangan sampai penyampaian kritik itu dimanfaatkan menjadi momentum untuk menyerang pemerintah secara membabi buta.
"Ini menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan itikad baik menjadi bagian dari proses membangun Indonesia yang lebih baik,” ujarnya.
Fifi kemudian meluruskan pernyataan Prabowo soal Londo Ireng, dia menyebut kepala negara sama sekali tak bermaksud menyudutkan profesi tertentu, itu adalah ajakan kepada seluruh rakyat untuk selalu waspada terhadap pihak-pihak tertentu yang senang jika negara ini jatuh dan terpuruk.
"Yang disampaikan presiden adalah ajakan untuk tetap waspada terhadap pihak-pihak yang sengaja merangkai narasi seolah-olah Indonesia tidak memiliki harapan dan tidak sedang bergerak maju. Kritik tentu diperlukan, tetapi berbeda dengan upaya membangun pesimisme secara sistematis," sambungnya.
Fifi menegaskan pemerintah menghormati kebebasan pers, kritik masyarakat, dan peran berbagai elemen bangsa sebagai bagian dari demokrasi. Namun, pemerintah juga mengajak seluruh pihak untuk menjaga agar ruang publik tidak dipenuhi narasi yang mengabaikan berbagai upaya penyelesaian yang sedang dilakukan.
Fifi menambahkan bahwa pemerintah akan terus memilih jalan kerja nyata sebagai jawaban atas berbagai kritik publik.
Baca Juga: Jokowi Terus Melakukan Tindakan Frustasi, Hasil Manuver Politiknya Nol Besar!
"Fokus pemerintah adalah menyelesaikan persoalan satu per satu, mempercepat perbaikan di lapangan, dan memastikan masyarakat merasakan manfaatnya. Ruang demokrasi tetap terbuka, tetapi mari bersama-sama menjaga agar kritik menjadi energi perbaikan," pungkasnya.