Kecepatan munculnya uban sendiri dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Usia dan faktor genetik merupakan faktor utama, sementara stres oksidatif, kebiasaan merokok, polusi, serta paparan lingkungan tertentu juga dapat berperan.
Stres psikologis berat bahkan diduga dapat mempercepat berkurangnya sel punca melanosit melalui aktivasi sistem saraf simpatis. Selain itu, uban yang muncul lebih dini dapat berkaitan dengan kondisi tertentu, seperti kekurangan vitamin B12 atau zat besi, gangguan tiroid, maupun beberapa penyakit autoimun.
Meski demikian, kata dia, kemunculan uban tidak selalu menjadi tanda adanya kekurangan nutrisi atau penyakit tertentu. Karena itu, warna rambut sebaiknya tidak dijadikan indikator tunggal untuk menilai kondisi kesehatan seseorang, terlebih untuk memperkirakan risiko kanker.
“Oleh karena itu, kita tidak perlu mengaitkan kemunculan uban dengan kemampuan tubuh menghentikan kanker. Pemahaman yang tepat ini penting agar kita tidak mengabaikan faktor risiko kanker hanya karena rambut mulai memutih,” tutur dr. Yenny.
Alih-alih menghubungkan perubahan warna rambut dengan perlindungan terhadap kanker, masyarakat justru perlu memperhatikan perubahan yang lebih relevan, terutama pada kulit. Perubahan tahi lalat, misalnya, perlu mendapat perhatian apabila mengalami perubahan bentuk, warna, ukuran, atau menimbulkan keluhan tertentu.
Pemeriksaan medis juga dapat dipertimbangkan apabila uban muncul sangat dini dan disertai keluhan lain. Dengan begitu, dokter dapat menilai apakah terdapat faktor nutrisi atau kondisi kesehatan tertentu yang mungkin berhubungan dengan munculnya uban.
“Pencegahan kanker tetap perlu dilakukan tanpa melihat warna rambut, antara lain dengan pola hidup sehat, menghindari rokok, melindungi kulit dari paparan ultraviolet berlebihan, serta memperhatikan perubahan tahi lalat atau lesi kulit yang mencurigakan,” pungkasnya.
Baca Juga: Kanker Kepala dan Leher Tak Lagi Identik dengan Perokok, Dokter Ungkap Pergeseran Faktor Risiko