Kaiser Cancer Center resmi diperkenalkan kepada publik melalui acara Media Launch & Gathering di Rooftop Science Tower, Biomedical Campus, D-HUB Special Economic Zone (SEZ), BSD City, Kamis (30/7/2026). Klinik kanker rawat jalan ini mengusung pendekatan onkologi terintegrasi dengan fokus utama pada layanan bagi perempuan.
Founder sekaligus Managing Director Kaiser Cancer Center, dr. Adithia Kwee, mengatakan pendirian klinik tersebut berangkat dari keprihatinannya melihat banyak pasien kanker Indonesia yang harus menjalani pengobatan ke Malaysia maupun Singapura secara berkala untuk mengikuti siklus kemoterapi.
Menurutnya, kehadiran Kaiser di kawasan D-HUB SEZ diharapkan dapat menghadirkan layanan kanker berstandar internasional di dalam negeri sehingga pasien tidak perlu lagi bergantung pada pengobatan di luar negeri.
Baca Juga: Kanker Kepala dan Leher Tak Lagi Identik dengan Perokok, Dokter Ungkap Pergeseran Faktor Risiko
Adithia mengungkapkan, motivasi tersebut juga dipengaruhi pengalaman pribadinya setelah kehilangan sang ibu akibat kanker otak langka yang tumbuh di sumsum tulang belakang dan sempat sulit didiagnosis.
"Kami ingin menghadirkan layanan kanker yang tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga memberikan pengalaman perawatan yang lebih menyeluruh bagi pasien," ujarnya.
Fokus pada Deteksi Dini hingga Terapi
Adithia menjelaskan, Kaiser Cancer Center menjalankan tiga pilar layanan utama. Pilar pertama adalah skrining dan deteksi dini melalui pemeriksaan seperti mamografi, USG, vaksin HPV, dan Pap smear.
Pilar kedua mencakup konfirmasi diagnosis melalui biopsi yang dilanjutkan dengan pembahasan kasus oleh tim multidisiplin. Sementara pilar ketiga berfokus pada terapi sistemik, seperti kemoterapi, terapi target (targeted therapy), dan imunoterapi.
Meski menempatkan kanker perempuan sebagai fokus utama, Kaiser tetap melayani pasien dengan jenis kanker lainnya, termasuk limfoma dan kanker prostat.
Baca Juga: Apakah Kanker Payudara Penyakit Keturunan? Ini Fakta yang Perlu Diketahui
Namun, materi edukasi dan kampanye kesehatan lebih banyak diarahkan pada kanker payudara dan kanker serviks, mengingat tingginya angka kasus kedua penyakit tersebut di Indonesia.
Tiga Keunggulan Layanan
Menurut Adithia, terdapat tiga aspek yang menjadi pembeda Kaiser Cancer Center dibandingkan layanan kanker lainnya.
Pertama, pendekatan integrative oncology yang tidak hanya menangani aspek medis, tetapi juga memberikan pendampingan psikologis, nutrisi, hingga konsultasi terkait pembiayaan pengobatan agar pasien dapat lebih fokus menjalani proses penyembuhan.
Kedua, penerapan Multidisciplinary Team Discussion (MDT), yakni mekanisme pembahasan setiap kasus oleh dokter dari berbagai disiplin ilmu untuk menghasilkan diagnosis dan rencana terapi yang lebih komprehensif.
Baca Juga: Ahli Gastroenterologi Harvard Ungkap 7 Gejala Awal Kanker Pankreas yang Sering Diabaikan
Ketiga, penggunaan sistem rekam medis digital terintegrasi melalui platform e-health dari Siemens Healthineers yang memungkinkan koordinasi pelayanan berlangsung lebih efisien.
Deteksi Dini Masih Menjadi Tantangan
Surgical Oncologist Kaiser Cancer Center, dr. I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, menegaskan bahwa deteksi dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan kanker payudara.
Menurutnya, masih banyak pasien datang ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari rasa takut hingga keengganan menjalani pemeriksaan, termasuk karena sebagian perempuan merasa kurang nyaman diperiksa oleh dokter laki-laki.
"Semakin early kita bisa dapat, semakin penanganannya lebih cepat, lebih minimal, biayanya gak banyak," ujar dr. Laksmi.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi bedah kini memungkinkan sebagian besar pasien kanker payudara menjalani rekonstruksi payudara setelah operasi sehingga tidak perlu terlalu khawatir terhadap perubahan bentuk fisik.
Pandangan serupa disampaikan Chairwoman Lovepink Indonesia, Dede Gracia. Ia mengatakan edukasi mengenai deteksi dini kanker payudara masih menghadapi tantangan karena di sejumlah daerah topik tersebut dianggap tabu.
Baca Juga: Drastis! WHO Prediksi Kasus Kanker Naik Dua Kali Lipat pada 2050
"Kita mengubah cara pikir mereka bahwa cancer bukan sesuatu yang mematikan, cancer itu bisa ditangani selama kita melakukannya early," kata Dede.
Karena itu, Lovepink terus mendorong agar pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) menjadi bagian dari gaya hidup perempuan, bukan hanya dilakukan ketika muncul keluhan.
Manfaat Kawasan Ekonomi Khusus
Chief Operating Officer D-HUB SEZ, Lindawaty Chandra, mengatakan D-HUB merupakan satu-satunya kawasan ekonomi khusus di Indonesia yang berfokus pada empat sektor, yakni kesehatan, pendidikan, teknologi, dan industri kreatif.
Ia berharap kehadiran Kaiser Cancer Center dapat memperkuat kolaborasi antarpenyedia layanan kesehatan di kawasan tersebut sekaligus mendorong peningkatan standar layanan onkologi di Indonesia.
Dalam sesi diskusi, Adithia juga menjelaskan bahwa status D-HUB sebagai kawasan ekonomi khusus membuka peluang bagi Kaiser untuk memfasilitasi akses terhadap obat-obatan yang telah memperoleh persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA), tetapi belum dipasarkan secara luas di Indonesia melalui mekanisme special access scheme sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, Kaiser memosisikan biaya layanannya lebih kompetitif dibandingkan sejumlah rumah sakit swasta karena hanya menyediakan layanan rawat jalan tanpa fasilitas rawat inap, sehingga biaya operasional dapat ditekan.