Peringatan keras datang dari pucuk pimpinan kecerdasan buatan di Microsoft. Mustafa Suleyman menyebut bahwa dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, banyak pekerjaan kerah putih berpotensi 'sepenuhnya otomatis'.

Pernyataan ini bukan sekadar spekulasi futuristik, melainkan refleksi dari perubahan yang menurutnya sudah berlangsung dan bergerak jauh lebih cepat dari yang disadari banyak orang.

Perlahan tapi pasti, kecerdasan buatan mulai mengambil alih berbagai tugas yang selama ini identik dengan pekerjaan manusia.

Dari analisis data, penyusunan dokumen, hingga pengelolaan proyek, semuanya kini bisa dilakukan dalam hitungan menit dengan tingkat efisiensi yang tinggi.

Peran manusia pun bergeser, bukan lagi sebagai pelaku utama, melainkan lebih sebagai pengawas yang memeriksa dan memperbaiki kesalahan jika diperlukan.

Dalam wawancaranya dengan Financial Times, Suleyman menegaskan bahwa teknologi AI tengah menuju titik di mana performanya setara dengan manusia dalam banyak tugas profesional.

Ia pun secara khusus menyoroti pekerjaan yang dilakukan di depan komputer, seperti pengacara, akuntan, manajer proyek, hingga profesional pemasaran, sebagai yang paling rentan terdampak.

Rekayasa perangkat lunak menjadi contoh paling nyata dari transformasi ini. Dalam waktu singkat, 'AI-assisted coding' telah menjadi praktik umum.

Banyak insinyur kini mengandalkan AI untuk menghasilkan sebagian besar kode mereka, sementara peran mereka bergeser ke aspek yang lebih strategis seperti debugging, analisis, dan desain sistem.

Fenomena ini bukan hanya disuarakan oleh satu pihak. Dario Amodei, peneliti kecerdasan buatan (AI) dan pengusaha Amerika yang menjabat sebagai CEO dan salah satu pendiri Anthropi,  bahkan memperingatkan bahwa hingga setengah pekerjaan kerah putih tingkat pemula bisa hilang dalam 6 hingga 12 bulan ke depan.

Sementara itu, Senator, Bernie Sanders menyebut potensi dampaknya sebagai 'gempa bumi ekonomi' jika otomatisasi benar-benar terjadi secara masif.

Baca Juga: Benarkah Kecerdasan Buatan Bakal Gantikan Peran Manusia?

Data pun mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan. Stanford Digital Economy Lab mencatat penurunan 13% dalam perekrutan tingkat pemula untuk pekerjaan yang rentan terhadap AI sejak kemunculan model bahasa besar. Sektor seperti pengembangan perangkat lunak, layanan pelanggan, dan administrasi menjadi yang paling terdampak.

Namun, gambaran ini tidak sepenuhnya gelap. World Economic Forum memperkirakan bahwa meskipun 92 juta pekerjaan bisa hilang pada 2030, sekitar 170 juta peran baru juga akan tercipta. Artinya, perubahan ini lebih merupakan transformasi daripada kehancuran total pasar kerja.

Meski begitu, transisi ini tidak mudah bagi semua orang. Kisah nyata dari pekerja di lapangan menunjukkan tekanan yang semakin terasa.

Seorang mantan profesional pemasaran di California, misalnya, terpaksa beralih karier setelah pekerjaannya tergantikan oleh AI. Ironisnya, ia justru harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk memeriksa konten yang dihasilkan AI dibanding saat menulisnya sendiri dengan bayaran yang lebih kecil.

Di sisi lain, ada juga yang memilih langkah drastis sejak dini. Seorang editor akademis berpengalaman memutuskan meninggalkan profesinya dan belajar di sekolah kuliner, mencari bidang yang dianggap lebih 'aman' dari otomatisasi dalam waktu dekat.

Menurut Carl Benedikt Frey, pekerjaan manual memang cenderung lebih sulit diotomatisasi dibanding pekerjaan digital.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa dampak AI akan menjangkau hampir semua industri. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, AI kini sudah mampu membantu menyelesaikan masalah teknis tanpa bantuan profesional.

Lalu, apakah ini saatnya panik? Tidak juga. Perubahan ini nyata, tetapi bukan berarti semua pekerjaan akan hilang dalam waktu dekat.

Yang lebih penting adalah memahami arah pergeseran, dari tugas rutin ke peran yang membutuhkan kreativitas, penilaian manusia, dan pemikiran strategis.

Baca Juga: Dian Sastrowardoyo Soroti Pentingnya Etika Digital Sejak Dini di Era Kecerdasan Buatan