Kebutuhan infrastruktur Indonesia diperkirakan akan meningkat signifikan dalam 25 tahun ke depan. Investasi infrastruktur tahunan diproyeksikan meningkat dari sekitar US$117 miliar pada 2024 menjadi lebih dari US$291 miliar pada 2050, berdasarkan laporan PwC Indonesia Infrastructure Outlook 2025–2050 yang diterbitkan hari ini.

Laporan ini disusun berdasarkan temuan dari PwC Global Infrastructure Outlook 2025–2050, yang memproyeksikan akumulasi investasi infrastruktur global mencapai US$151,1 triliun pada 2050. Dalam konteks tersebut, Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu tujuan investasi infrastruktur utama, didorong oleh urbanisasi, pertumbuhan ekonomi, transformasi digital, dan meningkatnya kebutuhan akan layanan dasar.

Baca Juga: Perkuat Infrastruktur Investasi, OCBC Ajak Masyarakat Makin Melek Finansial

Terdapat lima sektor prioritas yang diidentifikasi dalam laporan ini dan diperkirakan akan membentuk siklus pembangunan infrastruktur Indonesia berikutnya, yaitu transportasi, ketenagalistrikan, air, infrastruktur digital, dan infrastruktur sosial. “Indonesia tengah memasuki fase baru pembangunan infrastruktur. Jika pertumbuhan ekonomi melampaui proyeksi dasar, kebutuhan investasi tahunan bahkan dapat mencapai sekitar US$320 miliar pada 2050. Dalam menangkap peluang ini, diperlukan mobilisasi investasi swasta yang lebih besar, kolaborasi yang lebih erat antara sektor publik dan swasta, serta skema pembiayaan yang lebih inovatif,” ujar Agung Wiryawan, PwC Indonesia Infrastructure Leader, di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Transportasi, Ketenagalistrikan, dan Air Jadi Sektor Utama

Transportasi diperkirakan tetap menjadi peluang investasi infrastruktur terbesar di Indonesia dengan nilai investasi tahunan yang diproyeksikan hampir tiga kali lipat, dari US$50,2 miliar pada 2024 menjadi US$148 miliar pada 2050. Pertumbuhan investasi ini didorong oleh urbanisasi yang berkelanjutan, meningkatnya arus perdagangan, serta kebutuhan untuk memperkuat konektivitas antarpulau melalui pembangunan jalan, pelabuhan, bandara, dan jaringan kereta api.

Sementara itu, sektor ketenagalistrikan diproyeksikan tumbuh dari US$5,7 miliar pada 2024 menjadi US$16,6 miliar per tahun pada 2050. Peningkatan ini mencerminkan investasi yang semakin besar pada energi terbarukan, modernisasi jaringan listrik, penyimpanan energi, dan infrastruktur transmisi. Pengembangan energi terbarukan, elektrifikasi, serta meningkatnya permintaan listrik akibat industrialisasi, kendaraan listrik, dan pusat data diperkirakan menjadi pendorong utama pertumbuhan sektor ini.

Investasi pada sektor air diproyeksikan meningkat dari US$5,6 miliar pada 2024 menjadi US$17,2 miliar per tahun pada 2050. Pertumbuhan ini didorong oleh upaya memperluas akses air perpipaan, mengurangi kehilangan air, serta meningkatkan keandalan layanan. Sektor ini menjadi semakin penting seiring target Indonesia untuk mencapai akses universal terhadap sumber air yang aman dan layak untuk dikonsumsi pada 2045.

Infrastruktur digital diproyeksikan meningkat dari US$3,2 miliar pada 2024 menjadi US$5,0 miliar pada 2050, didorong oleh meningkatnya kebutuhan akan cloud computing, aplikasi AI, e-commerce, fintech, dan layanan publik digital. Investasi pada jaringan digital saja diperkirakan meningkat lebih dari dua kali lipat dari US$2,0 miliar menjadi US$4,1 miliar, menciptakan peluang di bidang jaringan fibre-optic, kabel bawah laut, menara telekomunikasi, dan infrastruktur konektivitas generasi berikutnya.

Infrastruktur sosial juga diproyeksikan tumbuh, dengan investasi tahunan pada infrastruktur kesehatan dan pendidikan meningkat dari US$5,5 miliar pada 2024 menjadi sekitar US$15,2 miliar pada 2050. Peningkatan ini akan mendukung agenda pengembangan sumber daya manusia di Indonesia dalam jangka panjang.

Investasi Swasta dan Pelaksanaan Proyek yang Efektif Jadi Faktor Penentu

Seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur, aspek pembiayaan akan menjadi pertimbangan yang semakin penting. Laporan ini menyoroti bahwa pencapaian target infrastruktur Indonesia dalam jangka panjang memerlukan mobilisasi modal yang lebih luas di luar sumber pendanaan publik tradisional.

Partisipasi yang lebih besar dari investor swasta, dana investasi milik negara, investor institusional, lembaga pembiayaan pembangunan, serta berbagai instrumen pembiayaan inovatif akan menjadi faktor penting dalam membantu menutup kesenjangan pendanaan infrastruktur.

Baca Juga: Industri Kreatif Indonesia Makin Menarik, Studi PwC: Pendapatan Box Office dalam Negeri Diproyeksi US$451,6 Juta pada 2030

Skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) diperkirakan tetap menjadi mekanisme penting untuk menarik investasi swasta. Meskipun portofolio proyek KPBU Indonesia telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, laporan ini mencatat bahwa kualitas persiapan proyek, kelayakan investasi, pengaturan pembagian risiko, dan koordinasi regulasi akan tetap menjadi faktor penentu keberhasilan implementasi proyek.

Laporan ini juga menyoroti pentingnya perencanaan infrastruktur yang terintegrasi. Sistem infrastruktur di masa depan akan semakin membutuhkan koordinasi dalam aspek perencanaan, investasi, dan pelaksanaan guna memaksimalkan produktivitas ekonomi, memperkuat ketahanan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

“Pada fase pembangunan infrastruktur Indonesia berikutnya, fokusnya bukan hanya membangun lebih banyak infrastruktur, melainkan menghadirkan infrastruktur yang mampu menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar, menarik investasi jangka panjang, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Agung.

“Keberhasilan akan sangat bergantung pada perencanaan, pembiayaan, dan pelaksanaan proyek yang efektif, serta kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta untuk membuka peluang pertumbuhan yang berkelanjutan," tegasnya.

Seiring Indonesia melangkah menuju visi Indonesia Emas 2045, penguatan eksekusi proyek, pengembangan solusi pembiayaan yang inovatif, serta pembangunan sistem infrastruktur yang semakin terhubung, tangguh, dan siap menghadapi masa depan akan menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan meningkatkan daya saing nasional.