Growthmates, derasnya arus informasi digital membuat masyarakat tidak hanya perlu mampu memilah fakta, tetapi juga menjaga kesehatan mental.

Berita tentang kebijakan kontroversial, demonstrasi, teror terhadap jurnalis, gejolak pasar saham hingga kasus korupsi pejabat dapat memicu kecemasan, frustrasi, bahkan kehilangan harapan.

Paparan berita negatif secara terus-menerus juga dapat membuat seseorang merasa tidak aman dan memengaruhi cara berpikir maupun memandang masa depan.

Psikolog Klinis Pamela Andari Priyudha, M.Psi., Psikolog, mengatakan kondisi ini bahkan dapat berkembang menjadi ketegangan psikologis kolektif.

“Ketika seseorang merasa tidak berdaya, mereka bisa mengalami learned helplessness, yaitu kondisi di mana merasa tidak mampu mengubah situasi meskipun sebenarnya ada peluang. Ini sangat berbahaya karena dapat menimbulkan apatisme, frustasi, dan depresi secara kolektif,” jelas Pamela, dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis (27/8/2026).

Menurut Pamela, cara seseorang mengonsumsi informasi perlu diperhatikan. Paparan berita yang dianggap mengancam secara berulang dapat membuat tubuh terus berada dalam kondisi waspada dan meningkatkan kecemasan.

Karena itu, literasi digital penting untuk membantu masyarakat mengevaluasi informasi secara kritis. Jangan hanya mengandalkan judul, potongan video, atau komentar di media sosial. Informasi perlu dibaca secara utuh dan diverifikasi melalui sumber kredibel.

“Penting untuk mengedepankan logika dan bersikap objektif. Selalu cari tahu dari berbagai sumber, jangan hanya mengandalkan satu sudut pandang,” tegasnya.

Pamela menyebut, orang tua dan lansia, remaja serta anak muda yang terlalu banyak menggunakan media sosial, serta masyarakat dengan literasi digital rendah dan akses informasi kredibel terbatas sebagai kelompok yang lebih rentan.

Kemampuan mengelola emosi juga berperan dalam menentukan dampak berita negatif terhadap kondisi psikologis. Karena itu, edukasi mengenai literasi digital dan regulasi emosi perlu dilakukan secara berkelanjutan oleh individu, institusi pendidikan, dan komunitas.

Membatasi konsumsi informasi, terutama yang memicu kecemasan, dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental. Bukan berarti menghindari informasi sepenuhnya, tetapi mengetahui kapan harus berhenti membaca, khususnya ketika kondisi psikologis sedang tidak stabil.

Masyarakat juga dapat membandingkan informasi dari berbagai sumber kredibel dan sementara menghindari topik yang sangat memicu emosi. Sebagai penyeimbang, konsumsi konten positif, inspiratif, dan membangun dapat membantu menjaga suasana hati.

Baca Juga: Psikologi Ungkap 3 Cara Melatih Otak Agar Lebih Disiplin dan Sukses