Industri hiburan Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang positif, didukung oleh meningkatnya permintaan terhadap konten lokal. Dominasi film Indonesia yang berhasil meraih 65% pangsa box office nasional mencerminkan semakin kuat dan matangnya industri perfilman domestik.

Berdasarkan laporan PwC Global Entertainment & Media Outlook 2026–2030, pendapatan box office Indonesia mencapai sekitar US$352,9 juta pada 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi US$451,6 juta pada 2030, dengan CAGR sebesar 5,1%, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Pasifik sebesar 4,3%. Sejalan dengan tren global, pertumbuhan pendapatan ini terutama didorong oleh kenaikan harga tiket yang meningkat dari US$2,8 pada 2024 menjadi US$2,9 pada 2025, sementara jumlah penonton sedikit menurun dari 124,4 juta menjadi 121,5 juta pada periode yang sama.

Baca Juga: Laporan PwC: Proyeksi Pendapatan Iklan Industri Hiburan dan Media Global Tahun 2030 Capai US$1,4 Triliun

Abdullah Azis, PwC Indonesia Telecommunications, Media and Technology Leader, mengatakan, "Dengan dukungan kebijakan yang mendorong kolaborasi produksi internasional, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ekosistem kreatif, menarik investasi, serta memperluas jangkauan konten lokal ke pasar global."

Sementara itu, dari sisi streaming atau over-the-top (OTT), pendapatan global diperkirakan tumbuh dengan CAGR sebesar 6,1%. Namun, laju pertumbuhannya diperkirakan melambat di pasar yang sudah matang akibat meningkatnya fenomena subscription fatigue atau kejenuhan pelanggan terhadap layanan berlangganan. Di Indonesia, pasar video OTT diproyeksikan menghasilkan pendapatan sebesar US$1,1 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi US$1,7 miliar pada 2030, dengan CAGR sebesar 8,3%—lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.

Pertumbuhan ini terutama didorong oleh layanan berbasis langganan dengan jumlah pelanggan diperkirakan meningkat dari 30,7 juta pada 2025 menjadi 38,1 juta pada 2030. Karena itu, tren konsolidasi, bundling berbagai layanan, serta kemitraan strategis antarplatform diperkirakan akan semakin meningkat.

Seiring semakin banyak platform yang menawarkan layanan berbasis iklan, kontribusi iklan terhadap pendapatan OTT juga akan semakin besar. Porsi iklan yang saat ini menyumbang 19,4% dari total pendapatan OTT secara global diproyeksikan meningkat menjadi 22,6% pada 2030. Di Indonesia, pertumbuhan pasar OTT juga didukung oleh semakin banyaknya kerja sama antara platform streaming dan penyedia layanan telekomunikasi, yang membantu memperluas jangkauan layanan sekaligus meningkatkan keterjangkauan bagi konsumen.

Sementara itu, secara global pendapatan televisi tradisional turun 2,7% pada 2025 menjadi US$360,5 miliar dan diperkirakan terus menurun hingga 2030. Namun, tren berbeda terjadi di Indonesia, di mana pendapatan televisi tradisional diproyeksikan meningkat dari US$2,4 miliar pada 2025 menjadi US$2,9 miliar pada 2030, mencerminkan ketahanan segmen ini di tengah perubahan perilaku konsumsi media.

Pengalaman interaksi langsung (live) tetap diminati secara global Hingga 2030, berbagai aktivitas hiburan berbasis interaksi langsung diperkirakan terus tumbuh, meskipun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan periode pemulihan pascapandemi. Aktivitas tersebut mencakup bioskop, konser musik, media luar ruang (out-of-home), hingga pameran dagang, yang secara kolektif diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 5,2% hingga mencapai US$294 miliar. Pasar global musik, radio, dan podcast diperkirakan meningkat dari US$125,5 miliar pada 2025 menjadi US$145,1 miliar pada 2030.

Streaming akan tetap menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$56,6 miliar pada 2030. Sementara itu, industri konser musik diperkirakan melampaui US$41,5 miliar pada 2030. Pameran dagang dan festival bisnis berbasis pengalaman juga berkembang pesat dan kini memiliki skala pasar yang hampir setara dengan industri musik live secara global. Belanja perusahaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut mencapai US$38 miliar pada 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi US$44,6 miliar pada 2030.