Berdasarkan laporan PwC AI Jobs Barometer 2026, artificial intelligence (AI) dengan cepat mengubah keterampilan yang paling dibutuhkan perusahaan dari para pekerjanya. Perusahaan kini semakin menghargai keterampilan manusia seperti kemampuan mengambil keputusan, kreativitas, dan kepemimpinan, sementara perusahaan yang mampu memanfaatkan AI secara efektif terus mempercepat perekrutan dibandingkan rekan-rekannya.

Laporan ini menganalisis lebih dari satu miliar lowongan pekerjaan di enam benua dan menunjukkan bahwa AI mendorong terbentuknya pasar tenaga kerja global dengan dua jalur berbeda. Di satu sisi, terdapat peran yang semakin mengandalkan keahlian profesional (professionalised roles), di mana AI mengotomatisasi tugas-tugas rutin sehingga penilaian dan keahlian manusia menjadi semakin penting. Di sisi lain, terdapat peran yang semakin terdemokratisasi (democratised roles), di mana AI membuat pekerjaan tersebut lebih mudah dilakukan oleh individu tanpa keahlian khusus.

Peran yang semakin mengandalkan keahlian profesional, seperti radiolog dan perekrut (recruiter), mencatat pertumbuhan jumlah lowongan dua kali lebih tinggi serta pertumbuhan gaji 42% lebih cepat dibandingkan peran yang semakin terdemokratisasi, seperti manajer layanan TI atau sekretaris medis.

Baca Juga: Privy Bangun Digital Trust di Tengah Perkembangan Pesat Kecerdasan Buatan (AI)

Joe Atkinson, PwC Global Chief AI Officer, mengatakan, “Di berbagai sektor ekonomi global, kita mulai melihat kesenjangan baru yang muncul antara berbagai model pengelolaan talenta dan penciptaan nilai. Perusahaan yang memperoleh manfaat terbesar dari AI adalah mereka yang menggunakannya untuk memperkuat keahlian manusia, mempercepat inovasi, dan menciptakan sumber nilai baru. Akibatnya, mereka unggul jauh dalam produktivitas dan pertumbuhan dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada otomatisasi.”

Subianto, PwC Indonesia Chief Digital & Technology Officer, mengatakan, “AI tidak hanya mengubah pekerjaan, tetapi juga mempercepat perubahan keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja. Peran dengan tingkat paparan AI tertinggi kini berkembang lebih dari dua kali lebih cepat dibandingkan peran lainnya, dengan kesenjangan yang meningkat 75% dibandingkan tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan beradaptasi dengan cepat menjadi keunggulan kompetitif yang semakin penting, baik bagi individu maupun organisasi.”

Pada level entry-level, AI tampaknya mendorong meningkatnya kebutuhan akan keterampilan yang sebelumnya identik dengan pekerja senior. Berdasarkan analisis terhadap 2,4 juta posisi entry-level di Amerika Serikat, pekerjaan entry-level yang paling terpapar AI kini tujuh kali lebih mungkin menuntut keterampilan yang berorientasi pada manusia seperti kepemimpinan, kreativitas, dan interaksi tatap muka. Jumlah lowongan untuk posisi entry-level yang mengalami "seniorisasi" ini meningkat 35% sejak 2019, sementara posisi entry-level lainnya justru menurun 10%.

Lita Dewi, PwC Indonesia Workforce Transformation Leader, mengatakan, “Bagi Indonesia, mempersiapkan tenaga kerja menghadapi era AI membutuhkan kolaborasi yang erat antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri. Berbagai temuan global maupun nasional menunjukkan kebutuhan yang sama, yaitu peningkatan literasi digital dan AI, penguatan kemampuan analitis serta keterampilan sosial-emosional, serta perluasan akses terhadap program peningkatan dan pembaruan keterampilan (reskilling) sepanjang di dunia kerja. Karena itu, regulator dan institusi pendidikan perlu mempercepat pembaruan kurikulum, memperkuat keselarasan dengan kebutuhan dunia kerja, dan memperluas akses terhadap pembelajaran sepanjang hayat agar semakin banyak masyarakat Indonesia dapat bekerja berdampingan dengan AI untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing mereka.”

Laporan ini juga menemukan adanya kesenjangan yang semakin lebar antara perusahaan dengan tingkat pemanfaatan AI tertinggi dan terendah. Perusahaan yang beroperasi di sektor dengan paparan AI tertinggi mencatat pertumbuhan produktivitas sebesar 34% pada 2025 dibandingkan 2018, sementara perusahaan yang paling minim memanfaatkan AI hanya mencatat pertumbuhan sebesar 24%.

Di dalam kelompok tersebut, mulai muncul fenomena perusahaan "superstar". Dua puluh persen perusahaan dengan tingkat paparan AI tertinggi mencatat pertumbuhan produktivitas tenaga kerja rata-rata sebesar 163% dibandingkan 2018—hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata perusahaan lain yang juga memiliki tingkat paparan AI tinggi.

Menariknya, pertumbuhan jumlah karyawan di perusahaan dengan tingkat paparan AI tertinggi juga melampaui perusahaan dengan tingkat paparan AI rendah, yakni 52% dibandingkan 36% pada 2025 dengan menggunakan 2018 sebagai tahun dasar.

Rata-rata gaji pekerja dengan keterampilan AI 62% lebih tinggi, sementara lowongan kerja terkait AI tumbuh melampaui pasar tenaga kerja secara keseluruhan.

Seiring meningkatnya produktivitas melalui pemanfaatan AI, upah rata-rata bagi pekerja yang memiliki keterampilan AI terus meningkat hingga mencapai 62%, naik dari 57% pada tahun lalu.

Besaran premi upah tersebut berbeda antarindustri, mencapai hingga 118% di sektor tertentu seperti pasar konsumen (consumer markets), namun hanya sekitar 16% di sektor pemerintahan dan layanan publik. Sementara itu, lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan AI spesifik—seperti prompt engineering atau machine learning—melonjak signifikan dan tumbuh sekitar delapan kali lebih cepat

(69%) dibandingkan pertumbuhan pasar kerja secara keseluruhan yang sebesar 9%. Jumlah pekerjaan berbasis AI kini hampir dua kali lipat dibandingkan 2024, dan pertumbuhan pekerjaan AI terus melampaui pertumbuhan pekerjaan secara keseluruhan sejak 2015. Sektor teknologi, media, dan telekomunikasi (11%), serta jasa profesional (6%), mencatat proporsi pertumbuhan pekerjaan AI tertinggi. Sementara itu, sektor kesehatan mencatat pertumbuhan terendah, yaitu kurang dari 1%.

PwC Global Workforce Leader, Pete Brown, mengatakan bahwa hubungan tradisional antara pengalaman dan keahlian kini sedang berubah.

"AI mulai mengambil alih sebagian pekerjaan rutin yang sebelumnya menjadi sarana pembelajaran bagi pekerja di awal karier, sementara kebutuhan akan kemampuan mengambil keputusan, kepemimpinan, dan adaptabilitas justru meningkat lebih cepat. Organisasi perlu meninjau kembali cara mereka mengembangkan talenta agar karyawannya dapat berkembang di lingkungan kerja yang baru ini," tutupnya.