Berdasarkan laporan PwC Global Entertainment & Media Outlook 2026–2030, industri E&M global diproyeksikan mencapai nilai US$4,2 triliun pada 2030, dengan pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 3,4%. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya peran iklan berbasis kecerdasan buatan (AI) serta tingginya minat masyarakat terhadap interaksi langsung (live experience) dan hiburan.
Di Indonesia, pasar hiburan dan media diperkirakan tumbuh dari US$31,7 miliar pada 2025 menjadi US$42,9 miliar pada 2030, atau mencatat CAGR sebesar 6,2% selama periode proyeksi. Hasil laporan ini, yang memetakan prospek pertumbuhan 12 sektor E&M di 53 negara dan wilayah, memperkirakan industri secara global akan menghasilkan tambahan pendapatan sebesar US$600 miliar pada 2030, yang sebagian besar didorong oleh perkembangan ekosistem digital.
Baca Juga: Pendapatan Taspen Life Tumbuh 27,08% pada Tahun 2025
Iklan diperkirakan tetap menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat dalam industri E&M global. Dari tiga segmen utama yang dianalisis dalam laporan ini—konektivitas, periklanan, dan konsumen— segmen iklan diproyeksikan tumbuh dengan CAGR 5,6% dan melampaui belanja konsumen mulai 2026. Di Indonesia, pendapatan iklan juga diprediksi tetap menjadi area pertumbuhan utama dengan CAGR sebesar 8,2% antara 2025 hingga 2030.
Di dalam segmen iklan, pasar iklan internet global—yang mencakup seluruh belanja iklan digital pada media sosial, video, dan platform digital lainnya—tumbuh 12,2% pada 2025 hingga mencapai US$755,6 miliar. Angka ini diperkirakan terus meningkat dengan CAGR sebesar 7,2% selama periode proyeksi. Di Indonesia, pendapatan iklan internet diproyeksikan naik dari US$10,7 miliar pada 2025 menjadi US$16,8 miliar pada 2030, dengan CAGR sebesar 9,4%.
Secara global, belanja iklan untuk pertama kalinya melampaui US$1 triliun pada 2025 dan diperkirakan mencapai US$1,4 triliun pada 2030. Pertumbuhan ini didorong oleh kemampuan AI dalam menghadirkan personalisasi secara real-time yang memungkinkan iklan lebih tepat sasaran dan bernilai lebih tinggi bagi pengiklan. Di Indonesia, pasar iklan juga diproyeksikan terus berkembang dari US$12,8 miliar pada 2025 menjadi US$18,9 miliar pada 2030.
Sebagai perbandingan, segmen konektivitas—yang mencakup pengeluaran masyarakat untuk akses internet dan merupakan segmen terbesar dari sisi pendapatan—diperkirakan mengalami perlambatan pertumbuhan secara global dengan CAGR sebesar 2,3%. Di Indonesia, pendapatan segmen ini diproyeksikan meningkat dari US$13,4 miliar pada 2025 menjadi US$16,7 miliar pada 2030, dengan CAGR sebesar 4,5%.
Bart Spiegel, PwC Global Entertainment & Media Sector Leader, mengatakan, "Iklan terus menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri hiburan dan media global, dan perannya akan semakin penting seiring AI menghadirkan personalisasi yang semakin canggih dalam interaksi dengan konsumen. Di tengah persaingan industri yang semakin ketat dan berkembangnya ekosistem digital, pelaku industri perlu terus mengevaluasi penawaran mereka, mulai dari menghadirkan paket layanan yang lebih menarik bagi konsumen yang sensitif terhadap harga hingga menyediakan pengalaman premium secara langsung yang semakin diminati oleh konsumen."
Seiring berlanjutnya pemulihan pascapandemi, pendapatan box office global diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 3,5% hingga mencapai US$39,5 miliar pada 2030. Secara regional, pemulihan tersebut masih berjalan dengan kecepatan yang berbeda-beda. Asia Pasifik diprediksi memimpin pertumbuhan, dengan pendapatan meningkat dari US$13,8 miliar pada 2025 menjadi sekitar US$17 miliar pada 2030. Kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) diperkirakan tumbuh dari US$8,6 miliar menjadi sekitar US$10,1 miliar, sementara Amerika Utara dari US$8,7 miliar menjadi sekitar US$9,9 miliar pada periode yang sama. Kenaikan pendapatan tersebut sebagian besar didorong oleh peningkatan harga tiket, sementara jumlah penonton bioskop secara global hanya diperkirakan tumbuh moderat sebesar 1% CAGR.
Dari sisi streaming atau over-the-top (OTT), pendapatan global diperkirakan tumbuh dengan CAGR sebesar 6,1%. Namun, laju pertumbuhannya diperkirakan melambat di pasar yang sudah matang akibat meningkatnya fenomena ‘subscription fatigue’ atau kejenuhan pelanggan terhadap layanan berlangganan. Di Indonesia, pasar video OTT diproyeksikan menghasilkan pendapatan sebesar US$1,1 miliar pada 2025 dan meningkat menjadi US$1,7 miliar pada 2030, dengan CAGR sebesar 8,3%—lebih tinggi dibandingkan rata-rata global.
Sementara itu, secara global pendapatan televisi tradisional turun 2,7% pada 2025 menjadi US$360,5 miliar dan diperkirakan terus menurun hingga 2030. Namun, tren berbeda terjadi di Indonesia, di mana pendapatan televisi tradisional diproyeksikan meningkat dari US$2,4 miliar pada 2025 menjadi US$2,9 miliar pada 2030, mencerminkan ketahanan segmen ini di tengah perubahan perilaku konsumsi media.
Pengalaman interaksi langsung (live) tetap diminati secara global Hingga 2030, berbagai aktivitas hiburan berbasis interaksi langsung diperkirakan terus tumbuh, meskipun dengan laju yang lebih moderat dibandingkan periode pemulihan pascapandemi. Aktivitas tersebut mencakup bioskop, konser musik, media luar ruang (out-of-home), hingga pameran dagang, yang secara kolektif diproyeksikan tumbuh dengan CAGR sebesar 5,2% hingga mencapai US$294 miliar. Pasar global musik, radio, dan podcast diperkirakan meningkat dari US$125,5 miliar pada 2025 menjadi US$145,1 miliar pada 2030.
Streaming akan tetap menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$56,6 miliar pada 2030. Sementara itu, industri konser musik diperkirakan melampaui US$41,5 miliar pada 2030. Pameran dagang dan festival bisnis berbasis pengalaman juga berkembang pesat dan kini memiliki skala pasar yang hampir setara dengan industri musik live secara global. Belanja perusahaan untuk berpartisipasi dalam kegiatan tersebut mencapai US$38 miliar pada 2025 dan diperkirakan meningkat menjadi US$44,6 miliar pada 2030.