Pengamat politik Syahganda Nainggolan mengatakan, Presiden Prabowo Subianto lebih baik dalam menjaga demokrasi bangsa ini ketimbang pendahulunya Joko Widodo (Jokowi).

Buktinya Prabowo tak mau ambil pusing bahkan sama sekali memikirkan untuk menangkap dan mengadili Ketua Umum Sukarelawan Projokowi (Projo) Budi Arie Setiadi atas tuduhan makar. 

Hal ini disampaikan Syahganda merespons pernyataan Budi Arie soal percepatan Pemilu 2029 yang memungkinkan tumbangnya pemerintahan Prabowo Subianto. 

Baca Juga: Buntut Ngomong Prabowo Selesai Sebelum 2029, Budi Arie Disekolahin Jokowi

"Saya percaya bahwa Prabowo itu lebih bagus mengampuni atau menjaga demokrasi ya kan agar rakyat tetap bisa menyuarakan pendapat,” kata Syahganda dilansir Olenka.id Selasa (1/9/2026). 

Menurutnya, keputusan Prabowo untuk tidak memusingkan pernyataan Budi Arie mesti diacungi jempol, selain menunjukkan kedewasaan dalam memimpin sebuah bangsa, keputusan itu membuat rakyat semakin tahu tabiat asli Jokowi dan gengnya, bahwa mereka sangat haus kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk merampas kekuasaan itu dari tangan pemerintahan yang sah. 

“Yang paling penting kan rakyat ini tahu bahwa agenda-agenda mereka tuh ya begitu gitu loh. Bahwa mereka ini pengin Game of Thrones, ngejar kekuasaan, ansih tidak ada urusan dengan politik rakyat. ini gengnya Jokowi ini. Itu aja yang penting rakyat tahu,"  ujarnya. 

Syahganda mengatakan, sikap Prabowo sangat kontras dengan Jokowi saat memimpin Indonesia, dimana eks Wali Kota Solo itu gencar menangkap dan mengadili orang-orang yang dianggap menentang pemerintahan dengan tuduhan makar yang acap kali tak terbukti. Jokowi agresif terhadap lawan politiknya yang bikin demokrasi Indonesia berjalan pincang. 

"Kalau saya kan ditangkap sama Jokowi dulu. Darmaon ditangkap sama Jokowi. Padahal kita menjalankan agenda-agenda demokrasi kan, bukan makar, dituduh makar kan gitu kan," pungkasnya. 

Sebagaimana diketahui, Budi Arie baru-baru ini membetot perhatian publik dengan pernyataan kontroversialnya soal wacana mengganti Prabowo di tengah jalan. Hal itu bahkan disampaikan di depan Jokowi. 

"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ucap Budi Arie yang langsung dijawab seruan "Siap!" dari audiens.

Budi Arie kemudian membandingkan kondisi sosial‑ekonomi saat ini dengan masa transisi Orde Baru ke Reformasi 1997–1999, ketika pemilu digelar lebih cepat pada 1999.

Baca Juga: Jokowi Bicara Kiat Bijaksana Menggunakan Kekuasaan, Deddy PDI-P Nyeletuk: Udah Benar Masuk Gorong-Gorong Ehh, Malah Main Medsos,Ngaca!

"Ini terjadi yang namanya kalau menurut pendapat saya terjadi yang namanya patahan sejarah, bagaimana tahun 97 itu tiba-tiba pemilu berikutnya 99. Dan potensi ini bukan tak ada, sangat besar dengan keresahan masyarakat dan kondisi ekonomi saat ini yang betul-betul tidak membuat masyarakat happy," tandasnya.