Dari sisi pasar, kata Timothius, industri kripto di Indonesia dinilai masih memiliki potensi pertumbuhan yang besar.

Berdasarkan data internal yang disampaikan dalam kesempatan yang sama, total transaksi kripto di Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp400 triliun dengan jumlah investor sekitar 20 juta orang.

Angka tersebut, kata dia, bahkan disebut telah melampaui jumlah investor saham domestik.

Menariknya, mayoritas investor kripto di Indonesia didominasi oleh kelompok usia produktif, terutama generasi muda.

“Mayoritas pengguna VIP kita berada di rentang usia 30–39 tahun, dan secara umum pengguna PINTU juga didominasi usia produktif, mulai dari 20-an hingga 50-an tahun,” kata Timothius.

Timothius juga menyoroti kondisi pasar kripto global yang saat ini masih berada dalam fase sideways atau bahkan mendekati bear market.

Menurutnya, harga aset kripto sempat mencapai sekitar US$120.000 sebelum terkoreksi hingga sekitar US$60.000, atau turun hampir 50%.

“Kalau melihat sejarah, biasanya bear market itu turun lebih dari 70%. Jadi apakah masih ada potensi turun lagi? Mungkin saja,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari situasi makroekonomi, ketegangan geopolitik, hingga kebijakan suku bunga di Amerika Serikat oleh Federal Reserve.

“Saat suku bunga masih tinggi, biasanya investor di AS lebih memilih menyimpan dana di bank. Tapi ketika suku bunga mulai turun, investor akan kembali melirik aset berisiko seperti saham teknologi maupun kripto,” jelas Timothius.

Meski demikian, ia melihat kondisi pasar saat ini justru menjadi peluang bagi investor jangka panjang.

“Menurut saya pribadi, ini justru waktu yang bagus untuk accumulate atau melakukan dollar cost averaging, dibandingkan saat harga berada di puncaknya,” pungkasnya.

Baca Juga: Perketat Manajemen Risiko Trading Derivatif Kripto, PINTU Futures Hadirkan 5 Fitur Unggulan