Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi perbincangan hangat dalam beberapa hari terakhir. Berkenaan dengan hal itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan bahwa batas aman nilai tukar rupiah berada pada kisaran level psikologis Rp15.000 per dolar AS.
Meski demikian, ia menekankan bahwa aspek yang lebih krusial bukan semata pada level tertentu melainkan kemampuan menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.
"Level psikologis nilai tukar rupiah harus dijaga supaya stabil dalam jangka panjang," tegas Bhima kepada Olenka, Senin (4/5/2026).
Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan rupiah hingga mencapai Rp17.300 per dolar AS perlu mendapat perhatian serius karena akan berdampak luas terhadap perekonomian nasional. Pelemahan nilai tukar rupiah akan berdampak terhadap kenaikan biaya impor, tekanan terhadap sektor riil, serta penurunan daya beli masyarakat.
"Kondisi sekarang ini sudah 17.300-17.400 maka yang paling penting adalah tidak terjadi fluktuasi yang terlalu ekstrem. Misalnya dijaga di level 17.400 selama tiga bulan ke depan," pungkasnya.
Baca Juga: Dekati Rp17.400 per Dolar AS, Ekonom Ungkap Efek Domino Pelemahan Nilai Tukar Rupiah ke Sektor Riil
Sementara itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin G. Hutapea, menilai bahwa perkembangan nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh eskalasi ketegangan geopolitik. Untuk itu, Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan intervensi di pasar valuta asing. Langkah ini dilakukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah berlanjutnya tekanan global.
"Bank Indonesia terus menegaskan komitmen untuk senantiasa hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," tegas Erwin kepada media pada Selasa (5/5/2026).