Pengamat politik Ray Rangkuti menilai hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo sedang dalam kondisi genting. Hubungan keduanya mulai berjarak akibat keretakan yang terjadi di antara mereka.
Indikasi ketidakharmonisan Prabowo-Jokowi kata Ray sudah terlihat gamblang sejak setengah tahun belakangan.
Menurut Ray kemungkinan untuk keduanya kembali harmonis sangat kecil, alih-alih bisa akur keretakan keduanya disebut mengarah pada perpecahan.
“Saya kira sejak tujuh bulan lalu sudah mengisyaratkan keretakan. Belum pecah, tapi dia retak. Retak itu ke arah pecah,” kata Ray dilansir dari saluran Youtube Hendri Satrio, Rabu (15/7/2026).
Puncak ketegangan Prabowo-Jokowi nlanjut Ray bisa saja terjadi menjelang Pilpres 2029 mendatang dimana keduanya diperkirakan bakal pecah kongsi dan memilih jalannya masing-masing.
“Jadi mungkin pecahnya di 2028, di mana kemungkinan Jokowi dengan Prabowo akan berbeda jalan," ujarnya.
Menurut Ray ada banyak hal yang melatarbelakangi perpecahan Prabowo-Jokowi, salah satunya soal peluang Gibran Rakabuming Raka yang kemungkinan kecil digandeng kembali oleh Prabowo pada Pilpres mendatang.
Hal ini diperkuat dengan safari politik Jokowi yang gencar dilakukan belakangan ini bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Blusukan yang dilakukan di Lampung dan rencananya bakal dilanjutkan ke Nusa Tenggara Timur (NTT) serta Jawa Tengah merupakan salah satu upaya Jokowi menggalang kekuatan politik untuk Gibran di 2029 mendatang.
"Kenapa beliau mulai jalan-jalan? Dugaan saya atau analisa saya, karena saya merasa Gibran hanya punya peluang sekitar 30 persen untuk kembali dipilih Prabowo sebagai pasangan pada 2029," ucapnya.
Meski demikian, Ray menegaskan peluang tersebut masih sangat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan politik nasional dalam beberapa tahun ke depan. Karena itu, Ray memperkirakan Prabowo akan mempertimbangkan figur lain sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2029.
Di sisi lain, ia menilai Jokowi juga akan menyiapkan sejumlah skenario politik untuk menjaga keberlanjutan pengaruh politik keluarganya.
"Tampaknya Prabowo akan mencari pasangan lain. Makanya Jokowi menyiapkan tiga skenario. Pertama, tetap bersama Prabowo. Kedua, mendorong Gibran menjadi RI 1 atau RI 2 tetapi tidak bersama Prabowo," jelasnya.
Ray menambahkan, selain menyiapkan strategi jangka panjang menuju Pilpres 2029, menurut analisisnya Jokowi juga mempertimbangkan berbagai kemungkinan dalam jangka pendek.
Baca Juga: Febrie Ardiansyah, Algojo Beringas Peliharaan Jokowi yang Dihabisi Jokowi Sendiri
"Itu kan jangka panjang. Jangka pendeknya, mana tahu ada sesuatu yang membuat Prabowo tidak bisa melanjutkan masa jabatannya sampai 2029. Gibran sudah dipersiapkan untuk bisa menerima estafet kepemimpinan itu," pungkasnya.