Manulife Investment Management merilis pandangan pasar Asia dan strategi investasi untuk semester kedua 2026. Memasuki semester kedua tahun ini, kondisi makroekonomi global masih sangat dipengaruhi oleh lamanya gangguan rantai pasok global dan tingginya harga komoditas. Sementara itu, proses normalisasi pada jalur energi dan pengiriman barang masih belum pasti.
Yuting Shao, Senior Global Macro Strategist, menyampaikan bahwa konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah mengubah arah kebijakan bank sentral global. Shao mengatakan, “Ekspektasi sebelumnya bahwa pelonggaran moneter akan berlangsung secara luas dan searah kini mulai bergeser. Tekanan biaya energi yang masih tinggi memaksa bank sentral di sejumlah kawasan untuk mempertahankan sikap hawkish guna mengantisipasi dampak lanjutan terhadap inflasi. Pada saat yang sama, siklus ekonomi global masih bergerak tidak merata. Negara-negara dengan ketahanan energi domestik yang kuat, atau yang terdorong langsung oleh tren besar teknologi, terbukti jauh lebih resilien.”
Baca Juga: Eks Trader Wall Street Bagikan 3 Cara Membangun Kekayaan Meski Baru Mulai Investasi di Usia 30-an
Luke Browne, Global Head of Multi-Asset Solutions, menilai bahwa kondisi makro yang semakin tidak merata semakin memperkuat kebutuhan terhadap alokasi aset yang selektif dan terdiversifikasi. Browne menyampaikan, “Dengan pasar tenaga kerja yang masih kuat dan menunda terjadinya pelonggaran moneter yang signifikan, kami mempertahankan pendekatan yang sangat selektif dalam alokasi aset. Meskipun pasar masih ditopang oleh kinerja laba yang resilien dan pertumbuhan yang stabil, risiko dan peluang menjadi semakin tidak merata antar kawasan dan kelas aset. Hal ini menegaskan pentingnya diversifikasi dan pengelolaan investasi secara aktif.”
Ia melanjutkan, “Kami memperkirakan kepemimpinan pasar saham akan meluas, tidak lagi hanya bertumpu pada saham teknologi berkapitalisasi besar dan artificial intelligence (AI), tetapi juga ke segmen aset berkualitas tinggi dan valuasi pasar yang menarik. Menjaga pendekatan multi-asset yang seimbang akan menjadi kunci untuk menghadapi volatilitas geopolitik dan valuasi, sekaligus menangkap peluang secara selektif di pasar global, seiring Asia yang terus memperoleh manfaat dari pertumbuhan struktural dan tema investasi terkait AI."
Sementara itu, prospek saham Asia tetap konstruktif menjelang semester kedua 2026, didukung oleh visibilitas laba yang membaik, kondisi keuangan yang lebih longgar, serta faktor pendorong pertumbuhan yang berbeda di tiap kawasan. June Chua, Head of Asia Equities, mengatakan, “Di Tiongkok Daratan, kami melihat perbaikan prospek laba yang lebih berkelanjutan dalam 12 hingga 18 bulan ke depan, setelah periode pelemahan sebelumnya. Seiring pemulihan ekonomi yang semakin meluas dan stabilisasi siklus industri, kami tetap melihat peluang di berbagai area seperti AI, semikonduktor, manufaktur canggih, dan peralatan kelistrikan."
Pada saat yang sama, Taiwan dan Korea Selatan terus memperoleh manfaat dari momentum kuat dalam ekosistem AI. Chua menambahkan, “Di kawasan ASEAN, meskipun tantangan jangka pendek masih ada, kami melihat adanya upaya kebijakan yang terkoordinasi serta penguatan permintaan domestik yang dapat mendukung pemulihan yang lebih berkelanjutan. Dalam kondisi ini, saham Asia menawarkan sumber pertumbuhan dan diversifikasi yang berbeda. Namun, perbedaan kinerja antar pasar dan sektor masih tinggi sehingga semakin menegaskan pentingnya pengelolaan investasi aktif serta pendekatan yang disiplin dan selektif dalam menangkap peluang di kawasan ini.”
Obligasi Asia
Murray Collis, Head of Asia Fixed Income, menilai bahwa di tengah ketidakpastian suku bunga yang masih berlangsung, obligasi Asia tetap berada dalam posisi yang baik pada semester kedua 2026, seiring investor mencari sumber pendapatan dan diversifikasi yang resilien. Collis menyampaikan, “Obligasi Asia menawarkan kombinasi yang menarik antara imbal hasil yang lebih tinggi dan durasi yang lebih pendek dibandingkan instrumen global sejenis. Hal ini memberikan bantalan pendapatan yang lebih resilien terhadap volatilitas suku bunga. Kami melihat peluang pada obligasi berdenominasi dolar AS di Asia dan pasar obligasi mata uang lokal tertentu, di mana dukungan kebijakan dan fundamental yang solid dapat membantu menopang imbal hasil."
Pada instrumen kredit, dia menambahkan, obligasi berimbal hasil tinggi (high yield) di Asia menonjol karena menawarkan potensi imbal hasil yang menarik dan didukung oleh kondisi fundamental yang membaik, sementara investment grade tetap didukung oleh pertumbuhan kawasan yang sehat. Di pasar lokal, selektivitas menjadi kunci, dengan negara seperti Jepang dan India yang menawarkan peluang berbeda seiring kondisi kebijakan dan dinamika pasar yang mendukung suku bunga serta mata uang.
“Dengan latar belakang tersebut, obligasi Asia tetap berada dalam posisi yang baik untuk memberikan pendapatan dan diversifikasi, sekaligus menawarkan ketahanan relatif pada semester kedua 2026," pungkasnya.