Elektabilitas Dedi Mulyadi terus menanjak naik mendekati elektabilitas Presiden Prabowo Subianto. Elektabilitas Gubernur Jawa Barat itu kian gacor di tengah isu duet dengan Gibran Rakabuming Raka untuk pasangan calon presiden dan calon wakil presiden pada Pilpres 2029 mendatang.
Elektabilitas mentereng Dedi Mulyadi ini diketahui lewat hasil survei Media Survei Nasional (Median) yang dirilis baru-baru ini dimana elektabilitas gubernur nyentrik itu mencapai 20,6 persen atau berada di urutan ke dua setelah Prabowo sebesar 32,4 persen.
Baca Juga: Di Hadapan Jokowi dan Budi Arie, Teriakan Duet Gibran- Kang Dedi untuk Pilpres 2029 Menggema!
“Dalam pertanyaan semi terbuka. Prabowo Subianto memperoleh 32,4 persen. Dedi Mulyadi berada di posisi kedua dengan 20,6 persen dan Anies Baswedan di posisi ketiga dengan 20,5 persen,” kata Direktur Eksekutif Median Rico Marbun dilansir Selasa (1/9/2026).
Dalam pertanyaan terbuka, Dedi juga tetap memperoleh elektabilitas yang lumayan menjanjikan yakni 19,8 persen, sementara Prabowo berada di angka 32,2 persen dan Anies 19,5 persen.
“Dalam pertanyaan terbuka. Prabowo Subianto memperoleh 32,2%, kemudian Dedi Mulyadi 19,8 persen dan Anies Baswedan 19,5 persen ,” kata Rico.
Adapun isu duet Dedi Mulyadi-Gibran Rakabuming Raka mulai mengemuka belakangan ini. Aspirasi menyandingkan kedua tokoh ini dalam satu paket yang sama pada Pilpres mendatang bahkan telah sampai ke telinga Joko Widodo (Jokowi).
Aspirasi itu disampaikan oleh Farhat Abbas dalam sebuah acara yang dihadiri Jokowi bersama ketua umum Sukarelawan Pro Jokowi (Projo). Belakangan potongan video pernyataan Farhat Abbas itu viral di media sosial.
“Perasaan saya Mas Gibran dan Kang Dedi Mulyadi,” kata Farhat Abbas dihadapan Jokowi dan Budi Arie dalam sebuah acara.
Dedi Mulyadi belakangan digosipkan semakin dekat ke kubu Jokowi, ia bahkan disebut-sebut segera cabut dari Gerindra dan segera bergabung ke PSI, partai politik yang identik dengan keluarga Jokowi.
Isu ini mengemuka ketika Dedi Mulyadi yang merupakan Gubernur Jawa Barat itu tiba-tiba mengunjungi masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kunjungan Dedi yang datang jauh lebih awal ketimbang kedatangan Presiden Prabowo itu disebut-sebut sebagai bagian dari permainan politik Jokowi.
Namun Dedi secara tegas membantah kabar tersebut dan memastikan dirinya hingga kini masih menjadi bagian dari struktur kepengurusan Gerindra.
“Iya itu tiba-tiba (isu) dari mana? Sampai hari ini saya adalah Wakil Ketua Umum Dewan Pembina Gerindra. Itu (isu) bukan tidak benar, tapi sudah bohong alias hoax,” kata Dedi.